Skip to content

Ikhlaskan Apa yang Paling Kamu Cintai

October 18, 2012

Bulan ramadhan, aku ikut kelas online. Gurunya adalah Ali Akbar, pakar SEO (Search Engine Optimization) di negeri ini. Kelas dilakukan secara real time. Hasil diskusi selalu dirangkum oleh asisten yang bertugas. Jadi, bagi yang ketinggalan bisa baca sewaktu membutuhkan.

Ada satu pelajaran sehabis kelas subuh waktu itu. Beliau bercerita tentang keikhlasan. Dituturkan bahwa Pak Ali memberikan topi kesayangannya kepada gurunya. Lalu gurunya itu memberikan topinya kepada orang lain. Pak Ali merasa tidak enak, karena topi itu adalah hasil pemberiannya. Lalu ditegur lah Pak Ali. Gurunya itu menasehati bahwa dia harus ikhlas.

Selesai bercerita, Pak Ali bilang “Kita harus sedekahkan hal yang paling kita cintai. Layaknya kekasih, Allah juga pasti akan suka menerima sesuatu yang kita cintai. Itu tandanya kita menganggap Dia spesial”

Sekejap aku terpikir pada hapeku. Barang yang paling aku cinta adalah hapeku itu karena itulah yang selalu aku bawa ke mana-mana. Bahkan, tak pernah akan ku lupa. Pasti akan ku cek terlebih dulu sebelum aku pergi, apakah hapeku sudah ku bawa atau belum.

Ketika oblack hilang, ada perasaan kaget luar biasa. Aku pikir oblack hanya terselip di tas. Setelah aku yakin hilang, yang teringat di benakku adalah nasehat Pak Ali itu. Ikhlaskan apa yang kita cintai.

Dulu aku juga pernah kehilangan hape. Sayangnya dulu aku menangisi kehilanganku itu. Lalu seorang teman menegurku, “Vi, kalo sampe benda atau hartamu ada yang hilang, berarti kamu kurang amal. Dan biasanya itu karena kamu niat mau amal tapi ditunda-tunda. Coba inget-inget lagi”

Temanku itu benar. Aku memang sudah berniat mau beramal tapi belum ku laksanakan. Sama halnya ketika aku kehilangan oblack. Aku ingat, aku mau sedekahkan oblack. Mungkin karena terlalu lama aku menunda, sehingga Allah menegurku.

Aku kehilangan oblack. Tapi aku mendapat banyak perhatian. Teman-teman di komunitas ketika tau hapeku hilang, dari sore hingga malam terus menghubungiku baik via sms ataupun telpon. Padahal di era messenger sekarang ini, sms sudah banyak ditinggalkan. Nyatanya mereka  mau menghubungiku melalui sms. Alhamdulillah!😀

Sekarang aku sudah tidak ingin menunda-nunda. Entah itu untuk beramal ataupun dalam hal pekerjaan. Kata orang-orang terdekatku, “kalau bisa dikerjakan sekarang, kenapa harus ditunda-tunda?”

Sesungguhnya ketika kita bisa mengikhlaskan sesuatu, dunia runtuh pun tak akan ada masalah. Karena jiwa kita sudah siap untuk kehilangan… dan dihilangkan.

From → My story

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: