Skip to content

Jangan Puas Kalau Dikasih Sedikit

October 31, 2012

Kita harus banyak bersyukur. Iya, itu betul. Tapi kalau untuk sesuatu yang perlu kita tahu, entah itu informasi ataupun ilmu, apa kita mau puas hanya diberi setengah bahkan hanya secuil?

Sewaktu awal belajar di bangku kuliah dan kelas manapun, biasanya aku pasif. Aku menerima apa yang semua pengajarku itu berikan. Lalu lama-lama akan muncul pertanyaan dari benakku. Dari mana dia belajar?

Setiap orang pasti punya pembimbing. Pengajar, guru, dan sejenisnya. Itu bisa berupa buku, diskusi, ataupun hasil dia belajar dan mengkaji sendiri. Kemudian aku berpikir untuk melakukan hal yang sama. Mencari sumber mereka belajar.

Aku tidak menolak apa yang diberi. Analoginya, pengajar kita itu pasti belajar dari banyak sumber. Jadi, apa yang dia sampaikan adalah ‘potongan-potongan kecil’ dari sumber yang besar. Mereka mengkombinasikan berbagai ilmu dan informasi yang didapat, lalu menyampaikannya kepada kita. Itupun sesuai dengan kapasitas ingatannya.

Bukannya lebih enak kalau kita mencoba mereguk langsung dari ‘sumbernya’?

Ini pernah terjadi padaku di kelas. Ada beberapa pengajar yang mengulang-ulang ucapannya. Aku anggap pengulangan ucapan itu berarti : kehabisan stok pemikiran. Konklusinya, mereka bukan sumber utama. Apalagi sudah menyebut tokoh lain atau buku lain, berarti di situlah kita bisa menambah apa yang kurang dari penyampaian pengajar.

Aku ini orangnya cukup penasaran. Aku penasaran mengapa orang itu pintar. Aku penasaran mengapa dia bisa punya ilmu demikian. Dari mana dia belajar? Siapa yang mengajarinya? Berapa lama prosesnya? Buku apa yang dia baca?

Lama-lama aku tersadar, suatu produk yang bagus adalah produk yang ditempa dengan sungguh-sungguh. Bukan produk instan ataupun karbitan. Mereka yang hebat itu pastilah memulai dari awal. Belajar dari nol, dipadu dengan mengamati dan mempelajari kesuksesan individu lainnya. Lalu tercetaklah satu kualitas premium bagi mereka yang bisa mengaplikasikan pengalaman dan hasil belajarnya.

Aku ini cukup penasaran. Sehingga kadang aku terlalu rewel bertanya. Tak jarang aku juga mengkritik. Tapi aku senang, lewat pertanyaan dan kritikanku itu, aku bisa mengukur seberapa jauh dan berkompetennya orang yang ku tanyai dan ku kritik itu.

Kadang dengan dramatis, aku selalu bersorak dalam hati “Aaaah you’re truly master!” sewaktu ‘bola panasku’ bisa dihandel sedemikian bijak dan cerdas🙂

Agaknya tak salah kalau kita merasa haus dan terus bertanya daripada diam menerima satu kebenaran tanpa mau keluar dari lingkaran dogma, dan melihat bahwa lebih banyak fakta yang bisa kita peroleh lebih dari itu.

Akhir kata, ada satu quote favoritku. “Stay Hungry, Stay Foolish” -Steve Jobs-

From → My story

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: