Skip to content

Perempuan, Sunat, Seks

December 25, 2012

PBB menyatakan bahwa sunat pada perempuan adalah salah satu bentuk pelanggaran HAM. Mungkin ada yang bertanya, mengapa bisa? Padahal laki-laki pun banyak yang sunat. Bukan hanya muslim, laki-laki nonmuslim di seluruh penjuru dunia banyak yang membuang sebagian kulit kelaminnya dengan sunat.

Lalu mengapa PBB dan berbagai organisasi di dunia mengecam sunat pada perempuan? Alasannya karena satu hal. Seks.

Perempuan yang disunat, bibir kelamin atau klitorisnya dipotong. Hal ini bisa mengurangi kenikmatan seksual saat melakukan hubungan badan. Banyak gerakan feminis yang menganggap tindakan ini adalah kebiri terhadap kaum hawa. Bahkan, ada yang menganggapnya sebagai mutilasi.

Di negara lain, sunat pada perempuan disebut dengan women mutilation. Sangat kejam kedengarannya. Namun jika merujuk pada salah satu bunyi hadis, dari 10 bagian, perempuan punya kenikmatan seksual sebanyak 9 kali dibanding laki-laki yang hanya punya 1 bagian.

Mungkin tujuan dilakukannya sunat agar perempuan tidak menjadi liar. Lebih bisa menjaga kehormatan, hingga tiba waktunya menikah.

Saya pernah bertanya pada beberapa teman perempuan. Ternyata mereka disunat sejak masih bayi. Perempuan yang disunat memiliki klitoris atau bibir vagina yang ukurannya lebih pendek. Tergantung bagian mana yang dipotong. Hampir sama seperti laki-laki, jika belum sunat maka kulit penutup kepala penis masih ada.

Laki-laki disunat untuk alasan kesehatan. Pengambilan kulit di bagian kulup tidak akan mengurangi kenikmatan seksual ataupun kemampuan penetrasinya. Berbeda dengan perempuan yang akan mengalami penurunan syahwat.

Kaum feminis dan liberal mengecam sunat pada perempuan. Atas dalih kebebasan dan HAM, mereka menolak women mutilation.

Pernah, dalam diskusi feminisme, salah satu narasumber mengatakan demikian “Kalau tau sunat bisa mengurangi ‘hak’ saya, saya berharap ketika masih bayi saya bisa berbicara dan menolak untuk disunat”.

Saya sendiri tidak yakin apakah benar sunat bisa mengurangi syahwat. Karena nafsu dan kemampuan seseorang berbeda. Mungkin memang dia yang tak bisa menikmati karena faktor lain kita pun tak tahu. Jadi sunat tidak bisa dikambing hitamkan dan menyalahkan masa lalu ketika ia disunat semasa bayi.

Sunat sendiri berasal dari ajaran Islam. Berasal dari kata ‘sunat’ atau sunah, maka tindakan ‘pembersihan’ alat kelamin ini tidaklah wajib.

Sangat disayangkan ketika banyak yang menolak sunat pada perempuan. Mereka berdalih Islam begitu kejam memotong hak pada perempuan. Padahal dalam Islam tak ada pemaksaan untuk melakukannya.

Semoga kita lebih bijak menilai dan menanggapinya.

We only live once. So, make it meaningful by helping the others.

From → Human Interest

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: