Skip to content

One of My Confeito. I love it!

January 7, 2013

Pagi ini kupaksakan tanganku bekerja. Penggunaan kata ‘paksa’ mungkin terlihat sangat tidak enak, namun memang begitu adanya. Di iringi lagu “I’ll find away, Letto” tangan ini merangkai kata demi kata.

Mataku sudah lumayan perih, karena beberapa hari ini tidak lepas dari layar laptop yang cahayanya sangat menyilaukan.

Kubuka cover album pertama Letto ‘Truth, cry and lie”. Ku baca sebuah lirik lagu yang ditaruh pada track 5. Maksud hati ingin ikut bernyanyi, karena lagu itu tengah mengalun lembut memenuhi kamar.

Namun, otakku malah tertarik pada makna lirik lagu tersebut. Sebelumnya kupikir lagu ini mengisahkan percintaan dua insan manusia, karena judulnya mengarah kesana. ‘U and I’ itulah judul yang mereka (Letto) berikan untuk jalinan kalimat indah berbahasa inggris.

Kucermati bait demi bait …

U take away my chances and your suitcase

Coz u gonna leave this town

Leave me cold leave me alone

…. But I won’t show you my frown

 

Coz U and I just U and I

There’s never been us

Dun ask me why

Love and laughter

Spring to winter

With you my dear friend

 

Do you remember my love fairy

“that look scary”

I know that’s the word you said

Keeps me thinking and wondering

…. What is this burning feeling

 

U and I

Just U and I

There’s never been us

Dun ask me why

Just give me your finger

That one in the middle

Lets laugh on this matter

 

…. Maybe U and me, just never meant to be

Friendship never end is not so bad anyhow

Maybe U and me just U and me

 

“Friendship never end”. Itulah kuncinya.. Tebakanku selama ini salah, lagu ini bukan menceritakan tentang percintaan namun persahabatan.

Lamunanku melayang pada sahabat-sahabatku, yang tengah bergulat dengan kehidupannya. Mencari jatidiri, cinta sejati, pendidikan, uang, atau yang hanya diam pada satu poros.

Aku suka mereka…

Kanvas yang sebelumnya hanya berwarna hitam, kini menjadi beragam. Perselisihan yang membuahkan konflik, persahabatan yang berubah menjadi cinta, kata-kata kasar yang berubah menjadi amarah, perbedaan latarbelakang berubah menjadi petaka ketika kami tidak saling memahami dan menahan diri. Itu semua hal yang membuat kami dewasa. Aku sadar akan hal itu, dan pasti mereka juga paham dengan hal itu. Namun, kami bukan manusia yang sudah sangat sempurna yang bisa menahan gejolak jiwa. Masih saja tidak mau mengalah dan merasa ‘paling’, diantara yang lain.

Ketika aku berselisih, pasti banyak waktu yang tersisihkan karena otak ini merasa tidak nyaman. Pasti sama dengan semua sahabatku, namun kami punya ego yang super tinggi untuk memulai kembali.

Memulai menyapa, memulai tersenyum, memulai berbicara…

Aku punya kekurangan dan juga kelebihan, sama dengan semua sahabatku. Kekurangan, kuharap itu bukan menjadi alasan sahabatku menjauh. Dan kelebihan, semoga tidak menjadikan aku tinggi hati. Dan sahabatlah yang selalu siap memarahiku ketika kepalaku sudah terlalu mendongak keatas. Kita berbeda, namun perbedaan itu bisa saling mengisi. ‘Saling mengisi’ bukan untuk mencari siapa yang ‘Paling’.

Aku suka Rika dan Dian….

Mereka selalu menjawab pertanyaan saya mengenai ‘peralatan wanita’, hal yang dulu jauh saya tinggalkan.

Aku suka Rina….

Selalu siap meminjamkan peralatan dandannya, ketika teman-temannya memerlukan.

Aku suka Endah…

Sikapnya yang terkadang membuat kami tertawa, ditengah keseriusan belajar. Dan temanku bermain cityville.

Aku suka Choerunnisa….

Selalu repot ketika hendak melakukan hal yang baru. Hampir semua orang yang ditemuinnya akan ditanya mengenai hal itu. Sikap yang baru kutemui..

Aku suka Puri…

Sukarelawan yang hampir setiap waktu pergi ketukang fotokopi karena titipan kami dan dosen.

Aku suka Evi….

Banyak yang ia tahu, dan banyak pengalaman yang telah dia lalui melebihi anak seusia kami. Kesukaan akan politik, kemudah percayanya pada orang, kecanduannya ia pada gadget, hal yang aku anggap sebagai kelebihannya.

Aku suka Dimas….

Makhluk berkulit hitam berhidung mancung. Aku, sedikit iri dengan hidungnya. ^_^. Mungkin ketika sedang pembagian hidung, ia datang lebih dahulu jadi dapat banyak. Dia, pria yang sensitive, walau tidak ditujukkannya secara langsung. Dan punya prinsip seperti “cermin”. Semoga prinsipnya tidak membahayakannya.

Aku suka Arie….

Sama-sama keriting dan kurus. Dan menjadi musuh bang Abie, versinya. Hhahhahahahah

Sikapnya yang sensitive, hampir seperti kulit bayi. Dan dia masih terus berkutat pada masalah cinta.

Aku suka Agung…

Keriting juga, sama seperti aku dan Arie. Dia penyuka vespa dan wanita. Tapi wanita mana yang benar-benar menclok dhatinya, aku juga tidak paham.

Aku suka Agus…

Sikapnya yang kekanak-kanakan, menjadi sebuah pemandangan baru bagi saya..

 

Kembali lagi pada dasarnya, kita dilahirkan berbeda-beda. Dan tidak akan pernah sama, jadi jangan memaksakan orang lain untuk menjadi seperti yang kita mau. Tapi, terimalah mereka dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Coz “Friendship never end”

 

———————————————————————————————————-

Itu tulisan Ayu, salah satu sahabatku. One of my confeito🙂

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: