Skip to content

RSBI Ada karena Gengsi

January 9, 2013

Selasa, 8 Januari 2013 MK memutuskan untuk menghapus Rintisan Sekolah Berstandar Nasional (RSBI). Keputusan ini didasarkan pada aduan beberapa Komite Orangtua Siswa dan Indonesian Corruption Watch (ICW). Banyak pro dan kontra mengenai keputusan MK tersebut.

Sebagian pihak menganggap keputusan MK dinilai tepat. RSBI selama ini banyak yang dinilai sebagai tindak pelegalan pihak sekolah untuk meminta uang pungutan kepada orangtua siswa. Dengan biaya yang cukup tinggi, otomatis siswa yang masuk RSBI hanyalah siswa yang mampu secara ekonomi.

Mereka yang mendukung pembubaran RSBI menganggap pihak sekolah keterlaluan dalam membebankan biaya sekolah. Mereka berharap agar bisa mendapat layanan pendidikan yang layak tanpa harus dengan biaya mencekik. Sedangkan pihak yang kontra menganggap keputusan MK membuat sejumlah wali murid dan siswa merasa kecewa. Mereka yang sudah menghabiskan biaya banyak terpaksa menelan pil pahit. Sekolah tempat anak mereka menempuh pendidikan tak lagi berstatus ‘bergengsi’.

Banyak siswa RSBI yang sudah mati-matian menempuh ujian masuk sekolah RSBI. Berdasarkan aturan Departemen Pendidikan Nasional, siswa yang ingin masuk RSBI harus memiliki standar yang tinggi, antara lain harus menjalani tes kejiwaan, matematika, IPA, dan Bahasa Indonesia dalam Bahasa Inggris.

Ujian masuk sekolah semacam itu sudah menjadi hal wajar untuk masuk sekolah favorit. Namun, yang menjadi masalah adalah biaya pungutan yang terlalu besar. Biaya gedung dan sumbangan lainnya harus dibayarkan oleh para wali murid sebagai ‘syarat’ bersekolah di sana.

Meskipun mahal, tak sedikit orang yang memasukkan anaknya ke sekolah RSBI. Ada beberapa faktor yang melandasi mereka memilih RSBI sebagai tempat belajar anak-anaknya. Pertama, faktor gengsi. Orangtua yang merasa kaya cenderung memilih tempat belajar dengan biaya fantastis. Dengan biaya masuk yang besar, mereka merasa hal tersebut bisa menaikkan prestise sebagai orangtua di mata orang lain.

Padahal, biaya mahal tak menjamin anak tersebut akan menempuh pendidikan dengan baik. Kondisi lingkungan sekolah yang dipenuhi oleh anak-anak borjuis justru membentuk mereka menjadi manusia egois. Tak pelak, banyak siswa sekolah RSBI yang memandang rendah siswa dari sekolah lain yang tidak berlabel RSBI.

Faktor kedua adalah dengan pertimbangan bahwa RSBI akan menjamin kualitas pendidikan anaknya. Tak dapat dipungkiri, sekolah RSBI memang memiliki fasilitas yang lebih baik. Dengan biaya pungutan yang besar, sekolah mampu memenuhi sarana dan prasarana sebagai sekolah unggulan.

Dalam hal sarana belajar, banyak sekolah yang tidak berlabel RSBI memiliki sarana yang cukup baik. Sekolah-sekolah yang tidak mampu meraih gelar RSBI tersebut sebetulnya cukup berprestasi. Namun, hal tersebut tak cukup membuka mata orangtua yang menginginkan pendidikan terbaik bagi anaknya.

 

Faktor ketiga disebabkan karena label ‘Internasional’. Banyak orangtua yang mempertimbangkan masa depan anak dengan label tersebut. Masih banyak yang berpikiran bahwa anak mereka tidak hanya akan dipertimbangkan dalam dunia kerja tingkat nasional ketika lulus nanti, tetapi juga dalam dunia internasional.

Sebagian orangtua salah kaprah dalam hal ini. Dalam dunia industri dan usaha, kemampuan seseorang diukur dan dinilai dari skill yang mereka miliki. Bukan dari asal sekolah, walaupun sekolah tersebut berlabel ‘Internasional’.

Melihat fenomena RSBI, saya teringat pada kasus Prita dengan Rumah Sakit Omni Internasional. Ketika kasus tersebut bergulir, ditemukan fakta bahwa rumah sakit tersebut sebetulnya tidak layak disebut sebagai rumah sakit internasional. Nama ‘internasional’ dibuat sendiri oleh pendiri rumah sakit. Bukan melalui penilaian dari lembaga yang melakukan sertifikasi untuk rumah sakit. Bisa jadi, banyak sekolah yang memakai nama ‘Internasional’ hanya untuk menarik minat orangtua memasukkan anaknya. Bukan dibarengi dengan kualitas dan standar yang berlaku secara internasional.

Masyarakat kita memang cenderung menilai sesuatu dari nama. Penamaan atau labeling kerap kali menjadi pertimbangan bagi seseorang untuk memilih. Padahal menurut pepatah, ‘Jangan nilai buku dari covernya’. Terkadang, apa yang ada di sampul buku tidak selalu sama dengan isinya.

Sayangnya masyarakat tidak peduli akan hal itu. Kondisi masyarakat global yang semakin menuntut persaingan tinggi membuat sebagian besar orangtua menginginkan hal yang terbaik untuk anak mereka. Sekolah favorit pun dipilih, dengan harapan agar ketika lulus, anak mereka tumbuh menjadi manusia yang berkualitas.

Bicara soal kualitas, tempat belajar tidak akan begitu berpengaruh besar jika tak ada motivasi dari dalam diri anak tersebut. Lingkungan di sekolah favorit cenderung hedonis. Para siswanya pun cenderung egois. Mereka dituntut untuk memiliki prestasi akademik yang tinggi. Hal ini menyebabkan masing-masing anak ingin merasa unggul daripada yang lainnya.

Pendidikan sudah diatur dalam pembukaan UUD 1945 alinea 4 yang berbunyi “…Memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa”. Melihat tujuan negara yang tertuang dalam pembukaan UUD tersebut, seharusnya pemerintah menyediakan pendidikan yang berkualitas bagi warga negaranya.

Anggaran dana pendidikan sebesar 20% dari APBN ternyata masih belum mampu meningkatkan kualitas pendidikan kita. Indonesia terus tertinggal dalam hal sumber daya manusia. Ditinggalkan oleh Vietnam, negara yang usianya jauh lebih muda dibanding Indonesia.

Jika pemerintah terus membiarkan badan penyelenggara pendidikan menetapkan biaya tinggi, maka pendidikan hanyalah bisa dinikmati oleh orang-orang kaya. Masyarakat menengah ke bawah yang jumlahnya sebanyak 80% lebih di negara ini hanya akan bisa menikmati pendidikan apa adanya sesuai kemampuan ekonomi mereka.

 ——————————————————————————————————————-

Pffffffffffffff *lurusin jari*

From → Education

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: