Skip to content

Apapun Profesinya, Ibadah Harus Jadi Landasan

January 10, 2013

Pagi ini, sama seperti pagi yang lain. Aku terpekur di depan layar 15 inchi. Menatapi deretan kata yang terpampang di sana. Ini sudah menjadi kegiatan rutinku setiap pagi. Setiap hari, 24/7.

Menjelang siang aku mulai pergi. Bertemu dengan orang-orang baru, menghadapi masalah baru. Aku menemukan lingkungan yang tak pernah ku datangi selama hampir 4 tahun di sini.

Dulu aku pernah berharap, suatu saat bisa berkelana membebaskan jiwaku. Sekarang aku mendapatkannya. Setiap hari aku bisa bepergian. Seperti liburan, ku biarkan jiwa ini mencecap segar manisnya senyum orang-orang yang ku temui.

Setiap hari pula, aku selalu mendengar nasehat dari temanku di kantor. “Dunia kerja itu keras. Apalagi lo sekarang jadi kesayangan si bos. Pasti rival lo berusaha jatuhin lo”. Tegas, keras.

Aku tak pernah merasa tersaingi. Ada satu teman yang sudah senior di sana. Kami tak pernah bekerja tim. Bukan karena bermusuhan, tapi memang wilayah kami berbeda. Aku anggap dia abangku. Pada nya lah aku bertanya. Sama sekali tak membuatku merasa terancam. Mungkin temanku punya masa lalu yang buruk soal ditindas orang. 

Awal memulai pekerjaan ini aku memang sedikit depresi. Aku tak tahu apa yang harus ku lakukan. Aku bingung harus membawa ke mana kaki ini melangkah. Passionku bukan di bidang ini.

Sampai pada satu kesimpulan, aku mencoba membesarkan hati. Passion tak perlu dimiliki dari awal. Tetapi kita sendiri yang harus membuatnya.

Sehari, dua hari, tiga hari, lalu pada hari keempat hasil kerjaku mendapat apresiasi. Hingga sekarang. 

Sejak apresiasi pertama, aku mulai menemukan ritme pekerjaanku. Aku mulai menikmatinya. Aku tak peduli berapa biaya yang harus ku keluarkan setiap hari untuk menyelesaikannya. Totalitas, itu yang sedang ku bangun.

Aku ingin menjadi manusia 100%. Ku coba tepis perasaan ingin dihargai dengan gaji. Apa yang ku lakukan, apa yang aku perbuat, aku hanya berharap itu bermanfaat.

Pendidikan adalah bidang yang ku jalani. Tapi aku tidak mengajar. Walaupun rindu bercengkerama dengan murid-murid terkadang meluap bagai air bah di dalam dadaku. Aku kangen mereka.

Tuhan membawaku ke jalan lain. Biasanya aku hanya mengajar maksimal 40an orang, sekarang aku mengajar ribuan orang. Melalui tulisan, lewat sebuah karya.

Aku senang, jika bisa bermanfaat bagi orang banyak🙂

From → Uncategorized

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: