Skip to content

Kau Harusnya Memilih Aku

January 11, 2013

“...Kau harusnya memilih aku

Lagu itu mengalun pelan. Sendu, seperti cuaca di luar sehabis hujan. Dia membolak-balikkan badan. Berkali-kali menghela nafas, resah.

Dadanya terasa sesak setiap mendengar lagu itu. Pikirannya berkelana, menembus dingin udara malam itu. Ke masa lalu, saat bahagia memihak padanya.

 

***

“Kita ini statusnya apa sih?”, tanya seorang gadis pada pasangannya.

“Kamu calon istriku.” Jawab si laki-laki tegas. Meyakinkan, tak ada keraguan satupun di dalamnya.

Desir gembira menghampiri gadis itu. Betapa dia sangat mencintai pasangannya. Cinta lamanya yang kini bisa ia miliki.

“Ehm, emangnya kapan kita jadian?” Goda gadis itu.

“Anggap aja, 10 November. 10-11-12.” Kembali si laki-laki menjawab dengan mantab. Matanya tak lepas dari pandangan ke arah kekasihnya.

Degupan jantung si gadis tak bisa dikendalikan. Rasanya gravitasi menuju padanya. Hanya dia seorang, tepat di bagian kanan dadanya. Hatinya, perasaannya, luluh untuk satu orang laki-laki yang kini sedang menatapnya dengan penuh senyum.

Dia balas senyum itu. Seolah berkata “Aku mencintaimu”. Hanya dalam hati, dalam diam.

***

Tak ada hubungan yang sempurna. Waktu berjalan mengiringi kisah mereka. Pertengkaran beberapa kali menghampiri. Menyertakan manis asam rasa berhubungan. Terasa indah jika sudah terlewat. Terasa nikmat jika sudah berbaikan.

Namun ada satu hal yang membuat gadis itu resah. Dia mendengar laki-laki yang dicintainya sudah dijodohkan dengan orang lain.

Awalnya tak dia pedulikan. Dia mencoba bertahan, karena dia sudah berkali-kali gagal. Kekasihnya telah hadir, di saat doa-doa kepada Yang Kuasa ia panjatkan. “Tuhan, berikan aku pendamping yang baik.”

Waktu tak pernah bisa berbohong. Bahkan bau anyir bopeng masa lalu pun bisa tercium seiring dengan bergulirnya sang waktu. Gadis itu terluka. Kabar perjodohan kekasihnya ternyata benar. Dia murka. Marah pada keadaan, marah pada dirinya yang begitu bodoh bisa kembali terluka.

“Andai aku bisa memilih, aku pilih kamu. Aku cinta kamu”. Itulah kata-kata kekasihnya ketika dia meminta penjelasan.

Usai sudah. Lemas rasanya hati si gadis. Dia membeku di perputaran waktu. Tertinggal, terhempas dalam duka hatinya. Kekasihnya pergi, memulai kisah baru dengan calon istrinya.

Dan dia… sendiri dengan lukanya.

kau harusnya memilih aku
yang lebih mampu menyayangimu, berada di sampingmu
kau harusnya memilih aku
tinggalkan dia, lupakan dia, datanglah kepadaku

—————————————————————————————————————–

For my beloved bulek.

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: