Skip to content

Keadaan Pasti Berubah. Jadi, Nikmati Saja

March 26, 2013

Malam ini bulan terang, menebarkan pesonanya sebagai makhluk cantik tunggal di langit. Sekilas aku mengingat masa kecil, di kala anak-anak masih begitu akrab bermain di alam.

Hampir setiap malam anak-anak hingga pemuda di kampungku pasti keluar. Kami terbagi menjadi beberap kelompok. Anak usia SD biasanya bergabung dengan mereka yang sudah duduk di bangku SMP. Lain lagi dengan remaja di atas usia itu. Mereka punya dunia sendiri dengan bahasan yang saat itu belum kami mengerti.

Terang bulan dan ramainya bintang masih sangat terlihat jelas di langit kampungku. Satu hal yang kurang bisa dinikmati di langit kota penuh polusi macam Bekasi ini.

Seusai solat Maghrib di langgar (musola), kami bermain di halaman dan jalanan depan langgar. Berlari, beli jajan, ataupun hanya duduk saling berbagi cerita. Kegiatan itu kami lakukan untuk menunggu waktu Isya tiba.

Selepas Isya, kami akan memuaskan diri dengan bermain yang lebih menguras tenaga. Hal yang tak kami lakukan di antara waktu Magrib dan Isya, karena akan menyebabkan keringat terlalu banyak keluar. Dan itu tak baik, karena sewaktu solat, kita harus dalam keadaan suci. Paling tidak, tubuh harus bersih ketika akan menghadap Tuhan.

Permainan yang dulu sering aku lakukan bersama teman-teman adalah ular naga, petak umpet, congklak, bahkan lompat tali. Dulu aku pendek, bantet. Tapi aku selalu mampu melompati tali setinggi dada remaja usia dewasa. Kalau sekarang, jangan ditanya lagi. Aku sudah kehilangan kemampuan dan kelenturan tubuh.

Kami anak kampung. Jam 8 malam sudah tak ada lagi yang nampak di jalanan. Kampung sepi dari anak-anak. Orangtua kami sering menakut-nakuti dengan cerita mistis. Satu hal yang ketika besar kami tahu alasannya, yaitu agar kami tak berlama-lama di luar rumah pada malam hari.

Aku masih ingat gerhana matahari sewaktu duduk di bangku kelas 4 SD. Bentuknya bulat sempurna, dan bulan nampak berwarna merah saat itu. Jika dilihat di ujung jalan kampung, bulan nampak ratusan kali lebih besar dari biasanya.

Peristiwa di atas berlangsung selama beberapa hari. Para orangtua menasehati anaknya untuk berdiam di rumah. Mereka bilang, bulan menjadi merah karena para dedemit sedang mencari tumbal. Siapa yang berani mendengar cerita macam itu?

Kami berani keluar jika ada gerombolan orangtua yang duduk di luar. Kampung sepi senyap bagai tak berpenghuni.

Aku rindu suasana malam di kampungku. Suasana yang mungkin tak pernah ada lagi. Lampu jalan sudah banyak yang menerangi. Anak-anak dan pemuda lebih banyak berdiam diri di rumah dengan ponsel di tangannya. Kalaupun mereka keluar, tempat hiburanlah yang dituju.

Tapi, inilah keadaan. Semuanya berubah, dan kita hanya bisa menikmatinya.

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: