Skip to content

Bukan Diperbudak, Ini Pengabdian!

March 30, 2013

Ada salah satu rekan kerjaku di sekolah. Dia adalah guru senior di sana. Namanya tak usah ku sebut. Yang pasti, dia adalah perempuan luar biasa.

Dia memiliki empat orang anak. Jarak usianya hanya satu tahun. Masing-masing duduk di bangku MI dan RA, setara SD dan TK.

Suaminya adalah seorang karyawan swasta. Setiap hari, si ibu mengurusi anaknya sendirian. Mulai dari memandikan mereka, memakaikan seragam, menyuapi sarapan, dan mengantar mereka ke sekolah. Untuk menunjang aktivitasnya itu, si ibu diperbolehkan naik motor oleh suaminya.

Di waktu siang selepas mengajar, si ibu langsung menjemput anaknya satu persatu. Lalu dia memasak untuk makan malam, mengajari anak-anaknya ngaji, dan membantu anak-anaknya mengerjakan PR. Ke mana suaminya?

Suaminya sama sekali tak membantu. Segala sesuatu yang berhubungan dengan anak dan rumah, dia serahkan ada istrinya. Aku ngeri, di jaman ketika emansipasi begitu nyaring digemborkan, masih ada saja perempuan seperti itu.

Dia bekerja. Dia mandiri. Pasti tak akan kesuitan jika seandainya dia bercerai dari suaminya. Gatal bibirku ingin bertanya, tapi hanya bisa ku tahan. Aku masih baru di situ. Lagipula, aku belum berpengalaman berumahtangga.

“Kok ibu kuat sih menjalani kehidupan rumah tangga seperti itu? Kalo saya mungkin udah minta cerai punya suami yang gak peduli sama istri”, komentar guru lainnya yang juga sudah senior.

Aku diam. Dalam Islam, ridho suami adalah surga istri. Tapi tak perlu menjadi budak seperti itu. Rasul kami saja mencontohkan untuk bisa menghargai perempuan dan membantu setiap pekerjaan istri.

Akhirnya, ada juga yang mewakiliku untuk bertanya. Si ibu yang ditanya hanya mendesah.

Lalu dari mulutnya meluncur kalimat “Ini pilihan hidup saya. Apapun yang terjadi, saya sudah siap dan ikhlas menjalaninya.”

Seketika aku merinding. Aku mendengar keteguhan hati yang luar biasa di sana, mengingatkanku pada orang-orang yang pernah menanyakan tentang keputusanku saat ini.

Aku bilang pada mereka “Ini pilihanku, dan aku siap mempertanggungjawabkan semuanya”.

Satu rasa bahagia menyelimuti ketika aku menemukan orang yang serupa. Dia, si ibu penuh kepatuhan demi mencari ridho suaminya.

From → Mama Speaks, My story

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: