Skip to content

Runtuhnya Kapitalisme dan Demokrasi

April 3, 2013

Aku pernah membaca tulisan Hasan Al Banna, bahwa demokrasi adalah seburuk-buruknya pemerintahan. Aku menyetujuinya. Demokrasi, yang kata orang membebaskan rakyat untuk bersuara, nyatanya hanya sistem yang rapuh. Indonesia dielu-elukan sebagai negara demokratis ketiga setelah India dan Amerika. Nyatanya? Setiap pemilu kisruh, sarat money politik, dan yang penting, uang rakyat dihamburkan begitu saja. Begitupun dengan pilkada. Bahkan aku pernah berdiskusi dengan orang Amerika sendiri, Indonesia ini terlalu demokratis. Kebablasan sampai melanggar batas yang seharusnya ada.

Sewaktu menjabat di pemerintahan kampus, aku melihat mahasiswa-mahasiswa yang sok demokratis. Mereka menggembar-gemborkan ide, musyawarah untuk mufakat, nyatanya selalu ada konspirasi dan niat busuk di belakangnya. BEM digulingkan. Masing-masing senat merasa paling sanggup berkuasa. Dengan lantang, perwakilan dari mereka bilang “Kita hidup di negara demokrasi. Jadi agar bisa menampung aspirasi semua mahasiswa, blablabla”. Oh nyatanya aku hanya mencium anyir niat busuk mereka. Karena itulah aku lebih memilih pasif dan apatis jika berada di forum. Terlalu lelah melawan kehendak segelintir orang yang berambisi untuk berkuasa.

Ada sedikit pencerahan dari Zaim Saidi yang aku ikuti dari kultwitnya mengenai demokrasi dan kapitalisme.

Kapitalisme dan demokrasi membenruk negara fiskal yang merupakan sistem tiran ciptaan para bankir. Kini satu pilarnya, yaitu sistem finansial palsu, mulai runtuh. Akan diikuti dg runtuhnya pilar kedua, yaitu kekuasaan palsu yang bernama demorkasi. NKRI pun mulai dipertanyakan, sebagai imbasnya. Adakah jalan selamat?

Eksistensi NKRI mulai banyak dipertanyakan orang. Ini bukan khas Indonesia. Cermin kegagalan kapitalisme dan demorkrasi. Eropa juga begitu. Kapitalisme dan demokrasi adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Demokrasi adalah instrumen kaum kapitalis menjalankan sistemnya. Kapitalisme ditopang oleh pengelaban finansial dengan numerologi uang kertas. Demokrasi ditopang pengelabuan politik lewat numerologi pemilu.

Keruntuhan sistem pengelabuan ini dimulai dari satu pilarnya, yaitu sistem finansial. Uang kertas runtuh, negara-negara bangkrut. Para bankir tengah berupaya mempertahankan sistem. Di AS dilakukan dengan QE, yang tak lain dengan cara pencetakan dolar AS besar-besaran. Di Eropa, Bail Out di mana-mana. Upaya itu hanya akan sia-sia saja. Keduanya memperparah keadaan. Rakyat di mana-mana marah dan protes. Pajak melonjak. Tabungan disita.

Para politisi, seperti biasa, jadi centeng para bankir. Seluruh kebijakan dibuat bukan untuk rakyat, tapi untuk bankir. Rakyat AS dan Eropa suah tahu akan hal itu. Rakyat mengerti sumber masalah, paham politisi hanya boneka dan centeng, mereka serbu para bankir di Wall St, London, Madrid, dan Siprus. Keruntuhan sektor finansial mulai diikuti dengan runtuhnya pilar kedua yaitu demokrasi. Dus ‘negara fiskal’ itu sendiri dalam proses runtuh.

Mengapa? Karena investasi terbesar perbankan ada pada APBN. Mulai terkuak nyata konsep ‘negara fiskal’ adalah kolusi politisi-bankir. Model negara fiskal pakai politisi sebagai boneka bankir, dengan 3 tugas: ambil utang ke bank, habiskannya APBN, pajaki rakyat untuk bayar utang. Jadi jangan heran APBN tidak sesuai dengan kebutuhan rakyat, tak pernah habis, diboros-boroskan tak peduli, karena desain dan tujuannya untuk para bankir.

Bankir bisa hidup kalau banyak yang berhutang. Tapi sistem ini pasti hancur. Karena utang bunga ber bunga. Untuk bayar bunga saja harus cetak uang terus. Maka setiap ada negara baru mau ‘merdeka’ syarat pertama adalah punya bank sentral, gabung Bank Dunia, dan IMF. Plus jadi anggota PBB.

Checnya, Bosnia, Timor Leste, Afganistan, pecahnya dua Sudan, contoh-contoh terbaru, semua diakui merdeka bila penuhi syarat no 18 itu. RI pun dulu begitu. Baru diakui, 1950, setelah jadikan NV DeJavasche Bank sebagai bank sentral, jadi anggota Bank Dunia, IMF, dan PBB.

Kehancuran pilar finansial diikuti oleh kehancuran ‘negara fiskal’. Efeknya :  (1) anarki sosial atau (2) fasisme. Sekarang sudah mulai nampak di Eropa. Nah, apa yg terjadi di NKRI saat ini? Bibit keduanya muncul juga anarkisme rakyat dan fasisme negara. Padahal, ini baru imbas saja. Ini adalah jalan simpang bangsa Indonesia: mau jalur runtuh atu jalan selamat. Kalau didiamkan runtuh. Untuk selamat butuh perubahan total.

Tentunya kita butuh jalan selamat. Butuh perubahan, bahkan transvaluasi, atas seluruh tatanan ekonomi dan politik kita. Apakah itu? Alternatif yang kita punya, saya tahu ini aneh dan asing bagi hampir semua orang, adalah Restorasi Sultaniyya. Ini cermin terbalik dari negara fiskal. Negara fiskal punya dua pilar, uang palsu dan kekuasaan palsu. Sultaniyya ditopang dua pilar, uang nyata dan kekuasaan nyata, seperti yang dicontohkan Rasulullah.

One Comment
  1. zeko permalink

    ya, aku juga merasa begitu, bahwa demokrasi akan segera runtuh, dari mulai pemerintahan, sistem keuangan, hukum, politik demokrasi hanya membuat umat manusia semakin sengsara. bukan sekarang, dan bukan esok, tapi segera. demokrasi akan runtuh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: