Skip to content
Tags

Ilmu yang Bermanfaat, Gratis atau Bayar?

April 9, 2013

money for education

Teknologi saat ini makin canggih. Orang pintar dan berilmu pun banyak. Ada yang ‘membagikan’nya secara gratis, ada pula yang membandrolnya dengan harga fantastis. Dalam Islam, ilmu yang bermanfaat akan terus menjadi amalan yang mengalir tanpa putus sekalipun kita telah meninggal. Ilmu merupakan salah satu dari tiga amalan selain anak soleh dan amal jariyah sebagai penerang kubur kita nantinya. Pertanyaannya, bagaimana kalau ilmu dikomersilkan?

Berikut ada kisah di jaman rasulullah yang bisa kita ambil hikmahnya.

Ibnu Abbas berkata, dari beliau Nabi SAW. Sesuatu yang lebih berhak kalian ambil sebagai upah, adalah kitab Allah. Imam Sya’bi berkata. Seorang pengajar yang tidak memberi janji selain untuk di beri sesuatu, maka hendaklah menerimanya. Kata Al Hakim: Aku tidak pernah mendengar seorangpun yang tidak suka memberi ongkos kepada orang yang mengajar. Sedang Al Hasan telah memberikan dirham sepuluh. Dan Ibnu Sirin pun tidak berpendapat dengan berbahayanya membayar gaji kepada tukang bagi iapun berkata bahwa yang dikatakan uang haram adalah uang sogok dalam memutuskan perkara dan mereka memberikan upah kepada pembagi buah kurma.

Dari Amirul Mu’minin, (Abu Hafsh atau Umar bin Khottob rodiyallohu’anhu) dia berkata: ”Aku pernah mendengar Rosululloh shollallohu’alaihi wassalam bersabda: ’Sesungguhnya seluruh amal itu tergantung kepada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai niatnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang berhijrah karena Alloh dan Rosul-Nya, maka hijrahnya kepada Alloh dan Rosul-Nya. Dan barangsiapa yang berhijrah karena (untuk mendapatkan) dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya itu kepada apa yang menjadi tujuannya (niatnya).” (Diriwayatkan oleh dua imam ahli hadits; Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrohim bin Mughiroh bin Bardizbah Al-Bukhori dan Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusairy An-Naisabury di dalam kedua kitab mereka yang merupakan kitab paling shahih diantara kitab-kitab hadits)

Jadi saya berani menyimpulkan, apabila niat kita ikhlas untuk menolong orang lain, pasti kebaikan akan menyertai kita. Misalnya, kita pernah memberi makan kepada pengemis. Suatu saat jika kita melamar pekerjaan lalu langsung diterima, bisa jadi itu adalah hasil dari kebaikan kita kepada si pengemis. Hukum cermin pasti berlaku (ini istilah saya sendiri, karena saya tidak mengenal karma :p)

Ilmu tak akan pernah habis jika dibagi. Semakin banyak kita berbagi, semakin banyak pula manfaat dan saudara atau orang yang kita tolong. Justru orang-orang yang pelit ilmu tak akan pernah mendapat kebaikan apapun dari ilmunya itu. wallahu ‘alam.

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: