Skip to content

Guru Bodoh, Murid Terpuruk

April 27, 2013

Bicara soal motivasi dan semangat belajar, aku teringat saat pertama kali mengajar. Minggu pertama hingga ketiga, aku hampir stress menghadapi beberapa murid yang tak pernah bisa fokus melihatku. Hasil kerja mereka pun berantakan. Aku merasa gagal menjadi guru.

Layaknya Newton yang mendapat ilham saat menemukan gaya gravitasi, aku pun mencoba bereksperimen. Hampir empat tahun aku belajar ilmu komunikasi. Ini saatnya aku mencoba mengaplikasikannya pada muridku. Interpersonal approach, satu metode yang entah ada di buku pendidikan atau tidak. Tapi aku menamainya demikian sesuai dengan judul penelitian yang aku ambil saat ini.

Perlahan-lahan aku dekati tiga murid yang membuatku uring-uringan ketika melihat tugas yang mereka kerjakan. Sekalipun demikian, aku tak pernah memarahi mereka. Pengalaman masa lalu dengan guru matematika di SMP yang mengataiku “BODOH!” menjadikanku tak pernah menghina murid sedikitpun. Biasanya aku hanya menghela nafas, atau pergi mengambil minum sebentar untuk mengendurkan syarafku yang tegang karena marah dan kecewa.

Pertemuan keempat, aku mulai menggunakan gesture dan proximity. Aku selalu mengajari ketiganya dengan jarak fisik yang sangat dekat. Di samping mereka, bisa dibilang mirip belajar privat. Aku juga gunakan sentuhan di bahu, contohnya tepukan untuk menyemangati mereka mengerjakan tugas. Hasilnya?

Di pertemuan kelima, mereka sudah bisa fokus menatapku sewaktu berdiri di depan kelas. Tugas pun dikerjakan tanpa main-main dulu, yang lebih seringnya bermain sosial media. Aku bukan tipikal orang saklek. Mereka ku bebaskan bermain, dengan satu syarat bisa mengerjakan tugas yang ku beri. Bagiku, selalu ada jiwa-jiwa jenius di antara para anak nakal :p

Aku tak pernah membatasi, hanya mengarahkan mereka untuk memperhatikanku. Ketiga murid tadi semakin menunjukkan kemajuannya. Aku senang, di pertemuan keenam hingga sekarang mereka mengalami perkembangan yang luar biasa. Tugas selalu dikerjakan tepat waktu, nilai pun naik. Yang membuatku lebih bangga, mereka tak lagi pasif di kelas.

Perasaan dipercaya dan kedekatan emosional membuat mereka menyukai apa yang aku ajarkan. Harapanku sederhana. Aku ingin mereka bisa menyerap sedikit ilmu yang aku sampaikan dengan senang hati. Bukan karena mengejar nilai semata.

Aku bukan orang yang terlalu ilmiah. Tapi setidaknya aku bisa mempraktekkan teori yang pernah ku pelajari, walau hanya sedikit. Paling tidak itu berguna untukku. Dan orang lain🙂

Terima kasih untuk guru Matematika SMP yang membuatku trauma. Perasaan malu dan rendah diri yang beliau torehkan membuatku belajar banyak hal. Akhirnya sekarang bisa ku terapkan saat aku menempati posisi yang sama dengannya. Sebagai guru.

Akhir kata, ini kesimpulan pribadiku : Hanya guru bodoh yang memarahi anak didiknya ketika prestasi mereka turun.

From → Mama Speaks, My Words

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: