Skip to content

Begini Rasanya Jadi Istri Kedua

May 16, 2013

Sebagian orang menganggap istri kedua adalah momok. Aib, bahkan hina. Ada juga yang tak acuh dan berpendapat bahwa orang tak berhak untuk mengomentari kehidupannya. “Gue nikah sah kok”.

Drama Eyang Subur dan Fathanah beberapa waktu lalu menampilkan berderet wanita yang bisa dimiliki dengan harta. Mungkin mereka merasa nyaman karena perut selalu kenyang. ATM selalu sedia, tabungan selalu melimpah. Tapi itu tak terjadi pada istri kedua yang belum lama ku kenal.

Terlalu panjang ceritanya. Tapi karena begitu banyak luka, sebaiknya aku cukup ceritakan sedikit saja😀

Wajahnya selalu ceria. Sejak pertemuan pertama kami, dari gestur dan sikapnya aku tahu dia orang yang baik. Hidupnya kelihatan sangat berkecukupan. Namun lontaran kalimat dari bibirnya belum lama ini membuatku terkejut.

Dia adalah istri kedua. Suaminya tak kaya, oleh karena itu dia bertahan tetap bekerja membiayai anaknya yang masih kecil. Usianya sudah senja. Satu hal yang sering membuatnya stres memikirkan masa depan anak lelakinya itu. Dia mulai mengasuransikan anaknya. Menyiapkan tabungan sekolah agar kelak ketika dia tak mampu lagi bekerja, anaknya masih bisa mengenyam bangku pendidikan.

Suaminya tak bisa begitu banyak diharapkan. Ada istri dan anak lainnya yang masih harus ditanggung. Kontrakan rumahnya pun dia bayar sendiri perbulan. Tak ada istilah uang suami dan uang istri. Baginya sama saja. Kemewahan ditepisnya. Dorongan kuat sebagai makhluk hawa yang suka dengan kemewahan dan belanja tak diturutinya. Ia tepis itu semua, demi masa depan anaknya.

“Sebentar lagi saya gak mampu kerja keras lagi. Saya kasihan gimana anak saya nantinya”.

Suaminya punya anak lain dari istri pertama. Perempuan, dan sebentar lagi masuk kuliah. Dari bibir perempuan yang mendekati paruh abad ini, aku mendengar betapa nestapanya dia. Setiap hari, suaminya selalu pulang ke rumahnya. Setelah mandi dan makan di rumahnya, suaminya lalu pulang ke rumah istri pertama. Begitu seterusnya.

“Kadang pengen ngeluh, kenapa dia ke rumah dalam keadaan kotor dan pergi dalam keadaan bersih”. Nanar matanya menatap entah apa yang ada di luar sana.

Ketika aku bahas tentang keadilan, dia hanya tertawa. Jangan pernah berharap orang poligami bisa adil. Itu katanya. Setidaknya, dia bersyukur. Kehidupannya memang tak begitu baik secara finansial. Tapi dia beruntung, keluarganya tak pernah dilanda prahara sekalipun hidup dengan kondisi berbagi suami, berbagi segalanya.

Melihatnya, aku teringat pada kalimat di buku Bumi Manusia karangan Pramoedya Ananta Toer. Nyai Ontosoroh, tokoh dalam buku itu mengatakan “Jangan sebut aku perempuan sejati, jika hidup berkalang lelaki”. Dia kuat dalam kelemahan, bertahan dalam kegoncangan hidupnya.

From → Mama Speaks, My story

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: