Skip to content

Aku Hampir Jadi Anak Jin

May 17, 2013

Masyarakat Jawa, terutama yang berada di pedesaan memang kental dengan cerita mistis dan kepercayaan kuno. Begitupun yang terjadi denganku. Aku hidup di lingkungan Jawa. Dulu, kami masih hidup dengan gelimang cahaya minim dari PLN. Listrik belum menjamah semua wilayah desa. Kalaupun ada yang punya, pasti itu rumah orang kaya.

Aku punya dua eyang dari pihak Bapak dan Ibu. Rumah eyang dari pihak Ibu jauh lebih baik. Bagian depannya adalah arsitektur bangunan Belanda berpadu dengan luwesnya bentuk rumah joglo khas Jawa. Di bagian belakangnya disambung dengan bilik bambu yang juga tinggi. Langit masih bisa nampak dari dalam rumah karena bilik itu tidak sepenuhnya menyatu dengan bagian atap.

Rumah eyang dari pihak Bapak jauh lebih sederhana. Aku ingat, di masa kecil, mungkin seusia balita, penerangan yang dipakai di situ hanya lampu teplok. Lampunya terbuat dari kaca dengan minyak sebagai bahan bakarnya. Ketika bangun tidur, lubang hidung kita akan berwarna hitam karena menghirup asap pekat dari corong lampu.

Suara jangkrik sangat akrab di telinga. Aku paling malas pergi ke rumah eyang dari pihak Bapak. Jaraknya tak begitu jauh, kira-kira dua kilometer dari rumah eyang satunya. Tapi, perjalanan ke sana cukup mengerikan. Ada gerombolan hutan bambu di dekat sungai di belakang pabrik tekstil. Jembatan yang mengubungkan kedua dusun terletak tak jauh dari gerombolan pohon bambu itu. Di situlah titik yang selalu membuat aku tak berani membuka mata ketika berjalan.

Eyang dari pihak Bapak selalu mengantarku pulang ke eyang dari pihak Ibu. Apabila lewat ba’da Isya, desa kami selalu sunyi. Itu terjadi di tahun 90-an, ketika warga desa belum terlalu banyak yang memiliki TV. Rumah-rumah masih menggunakan lampu teplok dan tak banyak suara motor. Terlalu sedikit warga kami yang memilikinya.

Di jembatan itu ada mitos bahwa segala jenis dedemit biasanya muncul. Ada yang bilang pernah melihat kuntilanak, pocong, genderuwo, dan banaspati. Itulah alasan mengapa aku selalu menutup mata rapat-rapat di sana. Aku hanya mengandalkan genggaman tangan pada eyang, dan membiarkannya menuntunku sampai melewati daerah itu.

Aku sendiri pernah mengalami kejadian yang hingga kini masih ku ingat. Waktu itu aku sedang demam tinggi. Aku tidur bersama eyang di kamarnya. Dari kecil aku ikut eyang, jadi aku tidur bersamanya layaknya tidur dengan orangtuaku sendiri. Aku tak tahu itu hari apa dan kapan waktu pastinya. Yang aku ingat, aku ingin pipis ke belakang.

Dengan minta diantar eyang, aku ke belakang hanya dengan memakai kaos singlet dan CD. Itu kostum tidurku di waktu kecil. Pintu kamar sengaja dibuka eyang. Dia jalan terlebih dahulu, aku mengikutinya di belakang. Namun, melewati pintu pembatas antara ruang tengah dan belakang, aku melihat sosok eyang lain. Tangannya menggapai ke arahku. Direntangkan, seolah ingin merangkulku.

Seketika aku panik. Aku bingung eyang mana yang harus aku ikuti. Tapi aku ingat, eyang yang tadi tidur denganku sudah berjalan di depan. Aku pun lari mengejar eyangku yang sesungguhnya. Karena masih kecil, eyang membiarkanku pipis di dalam rumah.

Bagian belakang rumah dengan bilik bambu yang ku ceritakan tadi masih memakai tanah sebagai lantainya. Ruangannya cukup luas. Ada tempat untuk amben, dapur bersih, lemari-lemari dan rak, dan juga ada tiga kedongan. Kedongan adalah semacam kamar tidur, tapi tak ada barang-barang di sana. Mungkin bisa disebut sebagai gudang.

Kedongan pertama dipakai sebagai kandang ayam. Eyang punya banyak sekali unggas. Ayam, enthog, bebek, dan burung dara dijadikan satu di situ. Kedongan kedua adalah bekas kamar eyang kakung. Tapi sudah lama tidak dipakai. Biasanya aku selalu merinding jika masuk situ. Konon, katanya pernah ada keris yang masuk ke kedongan eyang kakung. Itulah alasan kami para cucu-cucunya tak berani masuk ke dalam. Aku rasa itu hanya akal-akalan eyang agar kami tak membuat kamarnya berantakan.

Setelah pipis di kedongan, aku kembali ke kamar tanpa melepas tangan eyang. Di situ aku ketakutan. Aku menceritakannya pada eyang. Setelah mendengar ceritaku, eyang lalu menutup pintu kamar. Paginya, om dan bulek yang sudah tau ceritanya malah meledekku. Katanya itu tanda bahwa aku mau diambil sebagai anak jin. Aku ngeri mendengarnya!

Malam kedua, makhluk itu muncul lagi. Masih dengan badan demam, aku terbangun malam hari. Eyang terbiasa membuka pintu kamar karena sering kegerahan. Di depan kamar eyang adalah kamar omku. Tapi pintunya tertutup rapat.

Aku kembali melihat makhluk yang semalam muncul. Kali ini yang aku lihat adalah sosok berwarna hitam, duduk persis di depan pintu kamar omku. Matanya berwarna merah terang. Sangat terang, mirip lampu yang cahayanya bersinar. Bukan warna merah kornea seperti di film-film hantu.

Makhluk itu diam di sana. Beberapa kali menggerakkan badannya. Aku sendiri menggigil, menarik selimut dan mendekap erat eyang. Seketika eyang bangun, bertanya padaku apa yang terjadi. Aku bilang pada eyang bahwa makhluk yang semalam datang lagi. Tapi aku tak berani menunjuk ke arahnya.

Eyang bangkit. Pintu ditutupnya.

Itu adalah pengalamanku melihat makhluk halus. Di daerah kami, pernah ada beberapa orang yang sakit tak kunjung sembuh. Menurut dukun, paranormal, atau sejenisnya, roh mereka sedang dibawa oleh makhluk lain. Tetanggaku ada yang pernah jatuh dari pohon kelapa. Hampir tiga bulan dia koma.

Dukun di kampungku bilang, roh nya dibawa oleh jin yang menginginkannya menjadi anaknya. Wallahu’alam. Aku percaya bahwa mereka memang ada, karena bangsa jin memang benar-benar diciptakan oleh Allah.

 

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: