Skip to content

Cara Kredit Barang dengan Cara Halal

June 16, 2013

Aku sempat gelisah ketika ada beberapa orang ingin membeli barangku dengan cara kredit. Bukan masalah lamanya modal kembali. Aku senang bisa membantu mereka membeli barang tanpa harus pusing mengeluarkan sejumlah uang sekaligus dalam satu waktu. Lagipula harga yang aku tawarkan lebih murah dibanding mall ataupun toko yang ada.

Permasalahannya adalah, apakah nantinya uang dari hasil kredit itu termasuk riba? Aku tak begitu tamak mengambil untung banyak. Bagiku apa yang aku dapat sudah cukup. Aku takut justru uang yang aku hasilkan nantinya tak ada berkah. Setelah mencari dan membaca di salah satu blog milik abuabdilbarr.wordpress.com, aku menemukan penjelasan tentang kredit yang intinya sebagai berikut :

1. Jenis kredit pertama : transaksi langsung.

Apabila transaksi berlangsung antara pembeli dan penjual secara langsung, maka kredit dihalalkan secara syariat. Sekalipun keuntungan yang diambil demikian besar jumlahnya. Uang ekstra yang dihasilkan dari kredit tak termasuk riba, sebab transaksi dilakukan oleh pembeli dan penjual sesuai kesepakatan.

2. Jenis kredit kedua : melalui perantara.

Apabila transaksi dilakukan dengan melibatkan pihak ketika yang mengambil riba, maka kredit diharamkan. Contohnya begini : misal ada orang yang ingin membeli motor di show room. Dia tak punya uang sehingga harus meminjam uang ke bank. Harga motor adalah 10 juta, tetapi pihak bank meminta pelunasan sebesar 13 juta. Jelas, kredit semacam itu diharamkan secara syar’i.

Atau bisa juga begini : ada orang yang ingin membeli motor di showroom. Kebetulan motor itu bisa dicicil dengan cara kredit. Misalkan jika dibeli dengan uang tunai dia cukup membayar 10juta, tetapi jika dibayar kredit menjadi 13juta. Sekalipun transaksi dilakukan di show room, tetapi orang itu harus menyetornya di bank atau lembaga perkreditan yang dimaksud.

Transaksi semacam di atas adalah transaksi tidak langsung. Berikut saya jabarkan sedikit gambaran singkat tentang jenis kredit kedua :

Pembeli sebagai pihak pertama adalah orang yang ingin membeli motor dengan cara kredit.

Show room adalah pihak kedua sebagai penjual atau pemilik barang.

Bank/Perkreditan adalah phak ketiga yang menjadi tempat pihak pertama melunasi cicilan kreditnya.

Dengan demikian, transaksi kredit dengan cara kedua dikatakan haram. Sebab pembeli harus menyetorkan uang kepada penjual dengan jumlah riba yang dipinjamkan oleh bank/perkreditan. Dapat disimpulkan, lebih baik kredit barang dengan cara pertama, yaitu melakukan transaksi langsung antara penjual dan pembeli. Tak perlu berhutang kepada bank/penyetor🙂

Semoga kita lebih bijak dalam membeli barang😀

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: