Skip to content

Janda dalam Pandanganku

July 9, 2013

Sebelumnya aku punya pandangan minor terhadap janda. Lantaran masalah pribadi yang membuatku memberi justifikasi bahwa janda adalah sosok perempuan gatal yang tak tahu malu. Dalam benakku, sikap yang tak baik akan membuat perempuan semakin minus nilainya ketika dia punya status janda.

Di lingkunganku bekerja ada beberapa janda dan calon janda. Ku katakan demikian karena mereka memang sedang persiapan cerai. Dari situ aku melihat, perempuan sekarang ini banyak yang lebih suka melakukan perlawanan dibanding pasrah. Tak lagi takut dicerai, kini mereka lah yang berani mengajukan cerai jika merasa tersakiti.

Memang, dalam agama terutama agamaku (aku tak tahu hukum di agama lain), perceraian diperbolehkan hukumnya dengan beberapa pertimbangan, antara lain apabila suami menyimpang dari akidah atau melakukan tindakan aniaya terhadap istrinya.

Menurut cerita rekan kerjaku yang sudah menyandang gelar janda, status ‘kehormatan’ itu terpaksa mereka sandang lantaran tak tahan didera masalah yang tentunya sudah tak tertahankan. Ada yang bertahun-tahun tak dinafkahi, ada yang diselingkuhi, ada pula yang cerai secara baik-baik tanpa ada caci maki setelahnya.

Mereka jauh lebih santai menikmati hidup dan memandang hubungan sebagai sesuatu yang harus dinikmati tanpa perlu tergesa-gesa melangkah ke tahap serius (menikah lagi). Aku sendiri merasa ngeri ketika mereka menjalin hubungan dengan laki-laki, aku bertanya demikian :

“Kalo memang menjalin hubungan untuk have fun? Apa gak takut dijadikan tempat ‘icip-icip’ aja?”

Dengan blak-blakan aku tanya demikian. Memang tak semuanya berani menjawab, aku sendiri sadar itu hak mereka dan privacy mereka. Jawaban yang ku dapat selalu seperti ini :

“Sekarang yang dipikirin gimana caranya kita bahagia tanpa harus terluka lagi. Itu aja”

Mungkin aku yang berlebihan atau terlalu sarkastik menginterpretasikan kalimat itu. Tapi aku menangkap ada makna “Apapun yang terjadi, yang penting gue seneng”.

Di sini muncul kekhawatiranku. Laki-laki tak selamanya baik, pun tak semuanya bajingan. Kalau anak perawan saja tega dirusak, apalagi yang sudah janda? Demikian pikirku.

Di antara kami, ada yang menganggap hubungan yang dijalin para rekan janda adalah wajar. Namun, ada juga yang sinis menilai. Entah apapun penilaian orang, itu hak mereka. Tetapi sebagai sesama perempuan aku hanya bisa menyampaikan “Hati-hati, luka memang tak mudah hilang, tapi bermain apa hanya akan menciptakan luka baru”.

Bagaimanapun juga, aku lebih junior dari mereka soal pengalaman hidup dan hubungan. Lagipula, urusan hati adalah hak mereka pribadi. Namun tak salah kan, kalau aku ikut khawatir ketika mereka justru terjerumus?

Note : hanya untuk janda-janda baik, bukan janda gatal.

From → Mama Speaks, My Words

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: