Skip to content

Sedikit Luapan Rindu

August 4, 2013

Setelah sekian lama, kini aku merasa rindu pada sejuk udara penuh keluguan. Pepohonan berjejer menggerumbul menandakan bahwa tempat itu masih jauh dari keserakahan manusia menguasai tanah sebagai lahan pembangunan. Tempat itu adalah kampung halamanku. Berada di bagian tengah pulau Jawa dengan nama kabupaten yang nyaris tak dikenal orang.

Kalau kau mencari di Peta atau Map digital sekarang, nama kampungku memang ada. Tetapi ketika SD, aku dan kawan-kawan sekelas pernah sangat kesulitan mencari nama ‘Batang’ tercantum dalam peta Jawa Tengah. Tak ada. Tak dikenal. Orang lebih tau nama Batang Hari atau kota bergelar ‘Batang’ lainnya yang berada jauh di luar Pulau Jawa.

Tak apa. Aku memang sadar bahwa kampungku adalah kabupaten kecil. Lokasinya memang di jalur strategis. Semua orang yang melintas di Pantura pasti akan melewati kota kelahiranku. Namun coba tanyai, sadarkah mereka pernah melintas kabupaten penuh alas jati bernama Batang? Tentu sangat sedikit yang menyadarinya.

Dibanding Batang, nama Pekalongan dan Kendal jauh lebih dikenal orang. Aku sering mendeskripsikan letak kampungku dengan menyebutnya sebagai wilayah yang berada antara Pekalongan dan Kendal. Dengan ku jelaskan demikian, barulah orang secara lamat-lamat mulai mengerti. Sekali lagi tak apa. Aku tetap cinta kota kelahiranku. Sekalipun tak begitu banyak orang mengenal, namun di sanalah jiwaku terikat kuat untuk selalu ingin pulang.

Tiba-tiba aku merasa rindu. Rasa rindu yang demikian mencengkeram batin begitu kuat. Aku ingin menapaki jengkal demi jengkal tanah kelahiranku. Sepertinya aku merasa, dalam waktu 5 tahun lagi Batang akan mengalami banyak perubahan. Restoran franchise dan berbagai gaya kehidupan kota mulai mencemari tatanan kota. Aku kurang begitu suka.

Yang aku lihat, bangunan bata dan semrawutnya jalan tak begitu membuat hati siapapun tertarik untuk menetap. Kini Batang mulai terjangkit penyakit itu. Jalanan mulai mengalami kemacetan, anak mudanya bergaya cuek, dan yang paling tak ku suka adalah lahan-lahan hijau mulai tergerus pembangunan.

Aku ingat, ketika masih SD aku suka sekali bermain ke sawah dan ladang. Aku dan kawan-kawan masa kecilku gemar mencari ikan pitak, salah satu jenis ikan yang hidup di sungai atau sawah. ukurannya kecil, pada bagian kepala ada warna putih mirip pitak (luka cacat di kepala manusia, biasanya diakibatkan karena pernah terjatuh atau terbentur).

Mencari ikan, yuyu, dan lempung (tanah liat) sebagai bahan membuat patung-patungan adalah hobi yang kami lakukan hampir setiap hari. Biasanya sepulang sekolah aku akan makan dulu di rumah. Lalu aku pergi lewat pintu belakang yang waktu itu masih berpagar bilik bambu. Perlahan, menyelinap keluar dengan lari pontang-panting agar tak ketahuan eyang. Rimbunnya pohon empon-emponan (jenis kunyit, jahe, dan temu lawak) itulah yang menyelamatkanku dari pandangan mata eyang. Ditambah pohon ketela di belakang rumah eyang lumayan tinggi. Jadi segala gerak badanku pasti akan terlindung di baliknya.

Melewati kebun belakang rumah, aku akan menembus pekarangan salah satu tetangga kami. letaknya kira-kira 30 meter dari rumah. Lalu aku akan berlari lagi menuju arah utara, menuju ke sawah. Dalam perjalanan itu ada gerumbulan pohon bambu petung, jenis pohon bambu berwarna hijau yang ukurannya lumayan besar. Tempat itulah yang sering ditakuti kami para anak kecil dan kawula muda ketika bepergian malam hari. Kengerian yang ditimbulkan terasa lengkap karena penerangan di sana hanyalah lampu 5 watt milik pasangan penduduk yang sudah tua namun belum dikaruniai anak. Itupun dirasa makin menambah kesan suram, karena rumah milik pasangan penduduk tersebut sudah tua dan selalu gelap di bagian dalamnya ketika malam hari.

Mirip rumah berhantu.

Dari jalanan yang dipayungi gerumbulan bambu tersebutlah, lurus ke utara, akan ada lapangan sepakbola dan hamparan sawah. Sedikit lebih ke utara lagi, ada hutan jati dan sengon milik penduduk. Kalau diteruskan lagi, akan menembus sawah, kebun melati yang biasa disebut kembangan, dan berakhir di pantai yang bernama Sigandu. Itulah pantai kebanggan warga Batang, yang terkadang (justru lebih sering) dijadikan sebagai tempat memadu kasih para muda-mudi, bahkan orang-orang tua yang tak tahu malu untuk memadu hasrat.

Rumah kawan-kawanku harus mengambil arah kiri dari jalan yang dipenuhi pohon bambu tadi. Di sanalah terletak Dukuh Bleder, tempat para kawan-kawan terbaikku berada. Terbaik dalam kategori kekuatan badan. Orang-orang Bleder dikenal memiliki tubuh kuat yang cukat trengginas. Aku sering kalah berlomba dalam pelajaran olahraga. Bukan hanya aku, tetapi kami sekelas memang tak mampu melawan ketahanan dan kekuatan tubuh kawan-kawan kami yang rumahnya mewah (mepet sawah) tersebut.

Aku punya beberapa kawan baik di sana. Salah satu yang paling kuat dan sekel tubuhnya adalah Endang. Aku sering diajaknya ke sawah. Kadang aku yang memintanya untuk diajak ke sana. Kalian tahu? Sikap Endang dan beberapa kawan di Bleder masih membekas perilaku jaman feodal. Aku dan beberapa kawan yang mereka anggap memiliki kemampuan lebih, baik secara materi ataupun kepandaian di kelas, akan diperlakukan seperti ndoro putri. Jujur, perilaku ini aku alami. Bahkan oleh teman terdekatku sendiri.

Ibunya adalah penjual nasi. Setiap pagi, keluargaku selalu membeli nasi darinya. Dia sendiri setiap subuh berkeliling menjajakan nasi ke pabrik dekat perkampungan dengan berjalan kaki. Sepulang dari sanalah biasanya dia mampir untuk mengantar pesanan dari eyang. Sekalipun Yanu, nama temanku itu, adalah teman sekelasku, dia tak ubahnya bersikap layaknya emban terhadapku. Segala perilaku dan perkataannya seakan-akan menunjukkan bahwa kastanya rendah dariku. Waktu itu aku tak tahu. Aku tak mengerti.

Baru ketika aku sudah SMP, kami pisah sekolah. Aku menganggap sikap Yanu adalah pembodohan dan penjajahan atas dirinya sendiri. Namun aku juga menyalahkan diriku. Mengapa aku mau diperlakukan demikian?

Yanu bukanlah jenis perempuan yang bebas. Dia jauh lebih terpasung dariku. Eyang selalu mengkastakan diriku dengan jenis kelamin. Aku sering dilarang ini itu hanya karena aku seorang perempuan. Tapi Yanu? Kemiskinan keluarganya membuat ia tak bisa menikmati masa kecil dan masa mudanya dengan baik.

Aku sering berkunjung ke rumahnya. Di saat gemerlap lampu menerangi jalan, rumah Yanu hanya memakai ublik, lampu minyak yang memakai corong agar tak padam saat tertiup angin. Aku sering pergi ke rumahnya untuk belajar bersama atau mengajarinya mengerjakan PR. Kadang, dia yang datang padaku. Yanu adalah gadis yang memiliki kemampuan otak tak terlalu bagus. Tetapi daya juangnya untuk meruntuhkan kebodohan tak bisa diremehkan. Dia bangun subuh, pergi sekolah menjemputku, pulang sekolah ngemong adik-adiknya yang ingusnya berceceran ke mana-mana, sore menyiapkan bumbu, malam belajar, barulah tengah malam dia mulai memejamkan mata. Aku ingat dengan sangat baik semua yang ia lakukan sehari-harinya.

Aku ingin bercerita lebih banyak. Tapi aku pikir tak usah. Sebab semuanya sudah berbeda. Kampungku, sebentar lagi akan berubah drastis. Aku tak rela kehilangan segar dan hijaunya udara Pantura, jiwa Alas Roban yang namanya sudah lama sekali melegenda.

-Bekasi, 4 Agustus 2013. sedikit luapan rindu sebelum mudik lebaran-

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: