Skip to content

Sebaiknya Aku Resign

September 13, 2013

Sekarang ini sedang banyak lowongan CPNS. Berbagai perusahaan skala dari yang kecil hingga multinasional pun sedang gencar merekrut karyawan baru. Aku masih termangu. Tak mengambil tindakan apapun.

Aku sedang menikmati pekerjaanku yang sekarang. Meskipun pada akhirnya aku dilanda dilema. Aku galau, harus melanjutkan atau resign saja.

Sebagai anak pertama, aku ingin membahagiakan keluargaku. Aku juga tak lepas dari tanggung jawab terhadap adik tunggalku. Tahun depan dia masuk sekolah dan butuh biaya yang cukup besar.

Aku ingin resign. Aku mau gaji yang lebih besar.

Ibuku pernah bilang, “Jangan sampai kamu jadi perempuan yang tak punya apa-apa ketika mau menikah. Keluarga pasanganmu akan menginjakmu”.

Agaknya ibuku benar, sebab tak semua mata bisa melihat kelebihan kita. Mereka menerjemahkan semuanya menurut pandangan sendiri. Percuma punya hati yang baik, sebab itu bukan suatu yang berkesan pada pandangan pertama. Betul kan? Mata selalu menangkap penampilan di awal. Baru indera lainnya yang akan ikut-ikutan menilai.

Di masa galauku sekarang, aku masih bertahan. Bukannya aku tak mau berusaha. Kalau memang tujuanku resign adalah untuk mendapat uang (gaji) yang lebih banyak, sebaiknya aku tak melakukan itu.

Usaha kecil yang aku lakukan bisa menghasilkan pemasukan berkali-kali lipat dari gajiku sebagai guru. Bukan sombong, tapi ini fakta yang sebagian orang sering lupakan. Bahkan rasanya aku ingin membungkam para buruh yang hobi demo yang terus melunjak agar diberi gaji tinggi. Mereka tak sadar, ada banyak orang bergaji rendah tapi tak sebrutal itu.

Aku berterima kasih pada orang-orang yang membuka pikiranku. Kalau aku tak mengenal mereka, mungkin aku akan bernasib sama seperti teman-temanku yang lain. Di akhir studi, teman-temanku banyak yang bingung mencari kerja. Mereka datang ke job fair, atau mencari lowongan pekerjaan yang ada.

Aku tak mau begitu. Sekali lagi bukan karena aku sombong. Hanya saja aku yakin, pekerjaanku yang sekarang adalah yang terbaik.

Aku ingat pada niat awalku menerima pekerjaan ini : aku ingin melakukan perbuatan baik, sekalipun gelimang dosa menyelimutiku. Aku bahagia ketika murid-murid memanggilku dengan suka cita.

Bagiku, orang yang paling bahagia adalah ketika kehadirannya disambut dengan suka cita.

Gayaku mengajar adalah adopsi dari guru-guru yang ku hormati. Mereka mendidikku dengan akal dan hati. Bukan nafsu agar dihormati. Aku suka membebaskan murid-muridku ketika belajar. Sebab aku ingin mereka hormat padaku dengan kesadaran murni, bukan kesadaran palsu karena takut akan hukuman.

Dan semoga Tuhan, aku bisa lebih ikhlas menjalani pekerjaan ini.

2 Comments
  1. gepeng permalink

    sabar dan syukur mbak , bisa nyambi trs ga di omelin boss. jarang ada rebutan pangkat , tidak sikut2an. menjadi amal jariyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: