Skip to content

Kalau Tidak Dipaksa, Kapan Akan Terbiasa?

September 14, 2013

Beberapa hari yang lalu aku menulis tentang resign. Sebetulnya itu bukan keinginan murni, hanya kegalauan yang berlandas materi. Lalu aku sadar bahwa aku sudah mendapat apapun yang lebih dari materi.

Ketenangan hati.

Sekolah tempatku bekerja memiliki aturan yang bagus. Setiap pukul 06.50 siswa diwajibkan untuk tadarus berjamaah. Siang ketika dhuhur, kami juga solat jamaah di masjid.

Yang tak kalah baiknya, setiap jumat ada jadwal infaq mingguan. Maka di sekolah itu siswa akan mengalami bersih jiwa, bersih harta.

Sekolah ini dibangun oleh Yayasan Baitul Muttaqin yang artinya Rumah Orang Bertaqwa. Betapa tempat yang sempurna, ditambah dengan rekan-rekan kerja yang baik pula🙂

Aku sadar, tak semua siswa melakukannya dengan ikhlas. Seperti yang pernah ku katakan, perbuatan yang diharuskan oleh manusia hanya akan membentuk kesadaran palsu. Banyak siswa yang bilang sedang haid ketika disuruh tadarus, tetapi ketika dicek ternyata mereka bohong.

Untuk guru yang lain mungkin itu tak bisa diterima. Tidak denganku. Aku tahu apa yang mereka rasa. Jadi aku hanya bisa melakukan pengertian pada mereka, bahwa kewajiban yang diberlakukan di sekolah semuanya untuk mereka sendiri. Yah, semacam brain washing. Tak apa kan, kalau itu tujuannya baik?

Aku yakin, sesuatu yang dipaksakan memang tak baik. Tapi kalau kita tidak memaksakan diri untuk beribadah, kapan kita akan mulai terbiasa?

Note : terima kasih atas komentarnya😀

image

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: