Skip to content

Momen-Momen yang Diharamkan, Tapi Juga Dirayakan

December 31, 2013

Tahun baru masehi sebentar lagi. Beragam pendapat dan komentar mewarnai detik-detik pergantiannya. Sama seperti momen keagamaan, kaum ekstrimis dengan mantap melabelkan tahun baru sebagai sesuatu yang tak patut dirayakan.

Perdebatan sengit terjadi. Entahlah, mengapa hanya orang-orang dari agama yang ku peluk yang nampak menyibukkan diri melabeli ini itu. Pengucapan natal tak boleh, pemberian selamat tahun baru pun dikatakan haram.

Katakan aku seorang muslim yang dhaif. Tapi setidaknya aku bisa membaca. Biasanya akan ku telusuri dulu ayat atau hadist yang menjelaskannya. Ketika logika dan batinku tak terpuaskan, aku akan mencari pembenaran lain. Misal melalui contoh imam atau ulama, atau bahkan menurut sisi humanisku sendiri.

Pernah ku lihat salah seorang temanku marah-marah. Tak jelas siapa yang dia tuju. Tapi dari kalimatnya, seolah itu mengarah padaku. Dia menghujat perempuan yang dikatakannya cerdas namun selalu mencari pembenaran.

Sesungguhnya aku sangat terpukul. Aku tersindir!

Perasaan itu hanya sejenak meremas jantungku hingga aku sesak napas saking terkejutnya. Dia menghujatku! Dia tak suka pembenaranku!

Rasanya itu bermula ketika banyak orang yang membagikan postingan tentang pemberian ucapan natal. Isinya tentang seorang muslim dan nasrani. Si nasrani meminta muslim mengucapkan natal, tetapi si muslim menolak. Lalu muslim itu meminta teman nasraninya mengucap syahadat. Kali ini giliran nasrani yang menolak dengan alasan dilarang agamanya.

Aku pikir itu gila! Banyak teman hingga muridku yang membagikan isi percakapan itu agar ada pembenaran untuk tidak memberi ucapan selamat natal. Sebagai muslim aku merasa malu membacanya. Menurutku itu perbandingan yang timpang.

Bagaimana mungkin, kalimat ucapan selamat atas perayaan agama dibandingkan dengan kalimat pengakuan akan Tuhan? Harusnya ucapan natal dibandingkan dengan Idul Fitri. Itu baru logis.

Karena sindiran yang disampaikan lewat sosial media itulah, tembolokku terasa penuh sesak. Temanku yang ku kenal cukup baik menghujatku. Aku hanya terpaku dengan desir tajam seolah dia memaki tepat di depan wajahku.

Sejenak akal warasku terbuka. Dia bilang “Nona cerdas kan?” Kalau begitu aku selamat, sebab aku tak merasa cerdas. Setidaknya batinku menenangkan diri. Well, perasaan mudah GR memang tak mengenakkan.

Kadang aku ingin menjadi Kejawen sejati. Tak perlu pusing akan perdebatan agama. Pantaslah temanku pernah bilang “Agama impor hanya jadi sumber peperangan”.

Mungkin dia benar. Dan kebenaran itu untuknya sendiri. Belum tentu baik pula untuku.

From → Mama Speaks, My Words

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: