Skip to content

Masa Lalu, Kekecewaan, Dan Kita Sebagai Manusia

January 14, 2014

“Jadi yang penting pahami dulu pertanyaannya, baru nanti kalian cari jawabannya di teks,” Suara itu lirih terdengar dari dalam lab yang pintunya tertutup rapat. Tak lama kemudian gemuruh suara anak-anak terdengar.

“Susah Miss, pertanyaannya aja kita gak paham.” Salah seorang muridnya melontarkan pertanyaan.

“Iya Miss, gimana mau paham.” Kali ini, murid lainnya bertanya dengan mimik protes.

“Eeeh kalian ini kebanyakan mikir susah. Enjoy aja, you know. Namanya belajar bahasa gak bisa cuma pake logika. Kalian harus practice everyday. Miss ajarin dah.” Suara tunggal itu memecah dengungan protes.

Dialog gado-gado Indonesia, Betawi, Inggris tadi membungkam mulut siswa yang sedang diajarinya. Dia tak sedang bertugas secara formal. Kali ini dia sengaja ke sekolah untuk memberi pelajaran tambahan.

Namun tak kau lihat terkadang malaikat
Tak bersayap tak rupawan

Sosok itu tak masuk kategori rupawan. Tubuhnya tambun dengan usia menginjak kepala tiga. Namun sesiapapun di dekatnya akan merasa sayang. Hatinya lembut, ditambah sikap manja sekaligus mengayomi.

Kerap ku tangkap matanya memancarkan kesedihan. Terlalu dalam tersirat, terutama bila menyentuh tentang masa lalunya.

I miss him

Kalimat itu pernah ku lihat ditulis olehnya. Meskipun amat jarang ia mengungkap bagaimana dan siapa yang ia rindu, tapi kepiluannya menembus perhatianku.

Aku tak banyak ngobrol dengannya. Seperti biasa aku lebih sering memperhatikan. Dia adalah sosok bidadari yang terperangkap dalam jerat masa lalu menyiksa.

Pada sebuah perbincangan, pernah ku tanggap bahwa dia lah yang melepas lelakinya dulu. Hati mana yang sanggup diduakan? Terlebih sosok ketiga itu hadir begitu nyata dan telah menyakitinya.

Dalam setiap sorot matanya, aku menangkap rindu yang teramat perih dan mendendam. Kadang banyak mulut mencandainya tentang pasangan. Dan dia biasanya akan merengut, terlihat melolong akan kesendiriannya.

I miss him

Lagi-lagi itulah yang aku lihat. Sebuah jerit rindu dari bidadari patah sayap, lantaran belati kekecewaan telah merobeknya.

Menangislah bila harus menangis
Karena kita semua manusia
Manusia bisa terluka
Manusia pasti menangis
Dan manusia pun bisa mengambil hikmah

*Aaaak tulisan ini terasa dramatis dan membuat sedih diri sendiri ketika mengetiknya. Semua gara-gara Ka Ansor yang muter lagu super mellow Dewa 19*

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: