Skip to content

Guru Terbaik

January 15, 2014

Deretan tugas di to do list membuatku sibuk mondar-mandir. Sengaja aku datang lebih pagi sebelum jam ngajar agar punya banyak waktu untuk menyelesaikannya. Aku bersyukur, hingga saat ini aku masih diberi kepercayaan terlibat dalam urusan penting di sekolah.

“Bu Novi, nanti rapat jadi jam 10?” Pandangan ku arahkan pada rekan sekaligus seniorku.
“Iya Vi, sambil nunggu Bu Nawang.” Sahutnya sambil menatap ke arahku. Tangannya masih bertengger di atas tuts keyboard laptop merah miliknya.
“Oke, aku selesein laporan dulu.”

Bergegas aku naik ke lab atas. Lab yang telah sepenuhnya diberi amanah padaku untuk dijaga. Sebetulnya bukan penjaga lab yang harus selalu di situ, tetapi aku berwenang untuk mengatur apa saja yang berhubungan dengan lab. Termasuk pemberian ijin bagi guru atau siswa yang ingin menggunakannya.

Terdengar hebat? Kepala sekolah sudah tau, bahwa aku sering mengalami sakit kepala jika berada di lab itu. Maka minuslah kehebatanku. Seorang guru komputer sekaligus koordinator lab yang tak kuat kena dingin.

Ketika masuk di dalam lab, aku nyalakan semua komputer. Program office, koneksi internet, dan kondisi peralatan yang ada ku catat baik-baik sebagai data untuk dilaporkan. Sempat terbersit dalam benakku untuk minta dibantu oleh siswa. Tapi tak usahlah, aku ingin menikmati kesibukanku hari ini.

Layaknya seorang dokter, aku mencoba meraba masalah yang ada pada setiap komputer. Apa saja yang bermasalah, dan sebisa mungkin aku berusaha memperbaikinya saat itu juga. Beberapa bisa ku atasi, tetapi selebihnya aku menyerah. Lebih baik ku laporkan pada teknisinya.

Lab ku tutup kembali. Dengan sandal karet coklat aku turun ke ruang guru. Sesungguhnya guru wajib pakai sepatu. Agaknya kakiku telah memilih untuk nyaman dibanding tertib. Maka sandal harga 15 ribu inilah yang menjadi pendamping setia kakiku. Di ruang guru ku dapati komputer milik Waka Kurikulum sedang tak terpakai. Maka segeralah aku menuangkan laporanku ke dalam microsoft word.

Aku mengawalinya dengan membuat layout lab, lalu memasukkan kondisi semua perlengkapan menggunakan tabel. Sebisa mungkin laporan itu ku buat agar lebih mudah dipahami dan juga rapih.

Sekian menit berlalu. Mendadak ku dengar sapaan.

“Assalamu’alaikum Miss.”

Ah, dia! Tanpa perlu melihat wajahnya pun aku sudah tau. Anak itu selalu menyapa orang dengan salam. Aku tau dia, nama, kelas, meskipun aku tak mengajar di kelasnya.

“Wa’alaikumsalam.” Jawabku singkat.

Hampir saja hendak ku palingkan wajah, sebab aku pikir dia hanya ingin menyapa. Namun tak ku lihat dia beranjak pergi.

“Ada apa, Ninda?” Tanyaku ramah.
“Miss, saya mau kasih kue ini. Tolong diterima ya Miss.” Sebuah bungkusan disodorkannya padaku.

Dalam hati aku merasa senang sekaligus terkejut. Kue? Setidaknya bisa mengganjal perutku hingga malam. Namun aku penasaran, mengapa dia memberiku kue. Lalu aku pun mencoba menanyainya.

“Mmm sebelum Miss terima, Miss mau tau kenapa Ninda kasih kue itu ke Miss? Kan Miss gak ngajar di kelas Ninda.” Sebuah senyum ku kulum dengan alis terangkat. Aku menggodanya.
“Eng.. ini Miss.” Dia menggigit bibir. Bahasa tubuhnya menyiratkan rasa gugup. “Papa beli kue dua, katanya kasih aja ke guru favorit kamu. Nah aku pikir Miss guru terbaik.”

Tercengang aku mendengarnya! Aku sampai heran, bagaimana mungkin dia yang tak pernah ku ajar bisa menganggapku guru terbaik?

Lalu aku teringat obrolan beberapa waktu lalu. Dia datang ke ruang guru bersama seorang temannya. Mereka bertanya kapan hari lahirku. Aku tak mau menyebutkan. Dengan bercanda, aku berkata “Takutnya nanti kalian kasih kado, Miss malah seneng.”

Meskipun terus didesak, aku bersikeras tak mau menyebutkan. Maka pergilah mereka berdua dengan wajah kebingungan.

Dan hari ini, aku tersanjung sekaligus haru. Tiba-tiba saja aku ingat, ketika SMK aku pun memiliki ‘fans’ seperti itu. Namanya Nur Nasiyati. Tapi alasan juniorku itu jelas, dia suka sebab aku sering menjuarai lomba. Dia juga tau aku pemalas, tapi aku bisa meraih peringkat baik. Namun sekarang, aku belum tau mengapa ada siswa yang jatuh hati padaku.

Kembali ku tatap Ninda dengan wajah masih bingung. Aku pun berkata, “Makasih ya Ninda.”

“Dimakan ya Miss.” Dia pun berlalu dari hadapanku dengan penuh senyum.

Ah Ninda, pasti Miss makan. Meskipun diet hari itu gagal🙂

*Sesungguhnya ada ujian di setiap pujian. Aku akan malu, ketika aku tak sebaik yang dia kira*

From → My story, My Words

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: