Skip to content

Review Film “I, Frankenstein” Sentilan untuk Orang yang Putus Asa

March 5, 2014

Tadi sore gue pergi ke bioskop. Emang udah diniatin sih mau nonton film I, Frankenstein. Sebenernya pengen nonton Pompeii juga, tapi kayaknya buat next time aja.

Berhubung di semua bioskop XXI udah gak ada film Frankenstein, maka gue milih nonton di Blitz. Film ini dibuka dengan scene pembuangan Frankenstein oleh si penciptanya, yaitu Victor Frankenstein.

Nah, Victor ini ‘menciptakan’ manusia dari mayat untuk dihidupkan dengan aliran listrik sekian kilo joule. Dibutuhkan 8 mayat hingga akhirnya menjadi sosok Frankenstein.

Ternyata, Frankenstein ini diminati oleh Pangeran Iblis. Untungnya waktu itu ada pasukan ordo malaikat yang ada di sekitar situ, sehingga Frankenstein diselamatkan.

Frankenstein pun dibawa ke istana ordo itu, yang pada berabad-abad kemudian menjadi sebuah bangunan gereja katedral. Ratu ordo, Leanore namanya, bisa melihat kalo Frankenstein ini kuat. Makanya dia ngajak gabung melawan iblis

Sayangnya Frankenstein gak mau, dia memilih hidupo sendiri dengan berbekal senjata dari istana ordo malaikat yang udah dia bawa. Dia juga bikin sendiri senjata pemusnah iblis.

Merasa marah karena diburu iblis, Frankenstein balik memburu para iblis dan dia bunuh mereka. Sampe akhirnya Frankenstein sampe di markas iblis dan ketemu Dr. Wade yang dibayar oleh Pangeran Iblis untuk melakukan hal yang sama kayak Victor, yaitu menghidupkan mayat. Tujuannya biar nantinya mayat itu bisa dirasuki setan. Karena cuma manusia yang tak berjiwa lah yang bisa dirasuki setan.

Usaha si Pangeran Iblis hampir berhasil, Frankenstein bahkan dirasuki setan. Tapi, ternyata Frankenstein punya jiwa. Satu hal yang luput dari Pangeran Iblis. Dia kaget ketika setan gak berhasil merasuki Frankenstein, bahkan dia justru langsung dibunuh oleh si Frankenstein yang akhirnya berganti nama jadi Adam.

Pangeran Iblis pun mati, jiwanya kembali ke nerakanya. Istananya pun hancur bersama para mayat-mayat yang telah disiapkan untuk dirasuki para setan.

Nah, pesan moral dari film ini adalah kita jangan takut sama setan, karena setan pasti bisa dikalahkan. Kemudian, ada monolog dari Frankenstein yang gue suka “Bisa jadi kita tak mengharapkan dilahirkan ke dunia. Tapi mempertahankannya adalah hak kita”.

Itu adalah sentilan untuk orang yang putus asa. Seburuk apapun nasib kita saat ini, kita bertanggung jawab dan berhak untuk memperbaikinya. Sesuai firman Allah dalam Alquran “Aku tak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum mereka mengubahnya sendiri”.

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: