Skip to content

Ketika Anak SMA ‘Kenal’ Sipilis

March 13, 2014

Tadi siang gue ngawas midtest. Di satu ruangan yang terdiri dari anak-anak hiperaktif mulut, mereka belingsatan abis liat soal. Hemm, pasti pada kesusahan deh jawab soal. Terus ada yang nyeletuk “Miss, sipilis itu apa”.

Hah? Gue langsung kaget. Ngapain kamu tanya itu? Batin gue. Akhirnya gue balik nanya “Emang kenapa?”.

“Ini miss, ada soal nomer sekian yang nanyain cara mengobati sipilis”, jawab salah satu murid gue.

Gue tambah kaget. “Serius kalian gak tau apa itu sipilis?”. Semua kepala menggeleng. Gue tanya lagi “Kalian belajar gak semalem? Kok bisa gak tau pembahasan itu?”.

“Miss, kita dikasih kisi-kisi tapi gak ada di buku”, salah satu anak mencoba membela diri. Ok, yang gue tangkep sih sebenernya mereka udah dikasih kisi-kisi. Temen gue yang guru olahraga minta mereka browsing, tapi biasalah abege kalo ketemu internet yang dibuka pasti socmed. Gue juga punya murid di kelas lain, dia update status “Kisi-kisinya gak ada di buku, jadi browsing di internet deh”. Nah!

Ada dua poin yang gue garis bawahi.

Pertama, anak terlalu males belajar. Sebetulnya kalo mereka mau browsing, dijamin pasti seluruh soal yang ada akan kejawab dengan mudah. Gue udah baca kok, semuanya hanya membutuhkan jawaban nalar, bukan jawaban saklek atau text book. Jangankan sipilis, jenis penyakit kelamin lainnya pun mereka akan tau secara gamblang melalui hasil pencarian di google.

Kedua, gue miris karena mereka males baca. Mohon maaf, pengetahuannya jadi kurang. Gue sering kok melontarkan istilah di kelas yang sering ditanya balik sama mereka “Itu apa Miss?”. Ya ampun naak. Baca, dong. Baca. Itu jaman Miss belum tau seberapa lengkap dan mudahnya mendapatkan informasi di gugel, Miss rajin ke perpus daerah setiap hari. Orang kampung dulu sayang ngabisin duit empat ribu sejam di warnet. Mending pinjem buku, seribu buat tiga hari.

Asli, gue miris. Tapi ini juga jadi catatan buat gue, nanti kalo punya anak sebisa mungkin harus menanamkan kebiasaan membaca. Waktu gue SMP dulu sering jadi tempat bertanya karena bacaan gue udah lumayan berat. Gue baca bukunya Kartini Kartono, Yusuf Qardhawi, dan beberapa penulis buku pengetahuan lainnya.

Lalu waktu kenal internet, gue akui memang minat baca jadi menurun drastis. Bahkan pernah waktu kuliah, gue nangis karena untuk satu buku aja gue gak bisa selesein dalam waktu sebulan. Padahal dulunya buku tebel cuma gue baca dalam waktu maksimal dua hari. Ini kemunduran besar!

Semoga, dan gue yakin masih banyak generasi yang suka baca. Ingat nak, calon anak mama nanti musti rajin baca buku biar tau banyak hal. Semoga.

From → Education

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: