Skip to content

Perbaikan Niat, Menyesal Sebelum Terlambat

April 2, 2014

Akan ada hal-hal yang membuat kita merenung. Bisa dalam perenungan singkat, bahkan ada juga yang membutuhkan perenungan lama dan dalam. Kehidupan cukup rumit dimengerti jika hanya menggunakan akal. Butuh batin dan hati yang peka agar kita mengerti arti sebuah rasa.

Niat, seringkali kita tanamkan sebagai fondasi meraih sesuatu. Dalam Islam selalu ada bacaan niat sebelum beribadah. Niat sebelum solat, niat berbuka, atau niat berpuasa.

Kenapa sih harus baca niat?

Jika hanya dengan bibir saja kita berucap dan membaca, maka pelafalan niat itu tak ada gunanya. Terlebih ketika niat telah berubah haluan. Kadang kita tak tau, mengapa hidup kita tiba-tiba berubah. Coba ditelisik, apakah kita telah sejalan dengan niat awal atau telah berbelok?

Di saat lagi mens gini sebenernya gue lebih banyak berdiam diri dan introspeksi. Entahlah, mungkin salah buat sebagian orang. Tapi gue mau ngapain kalo lagi galau? Gue gak bisa solat. Baca zikir pun rasanya beda dibanding waktu gue gak halangan.

Biasanya waktu lagi halangan dan udah selesai baca dzikir, gue bingung mau ngapain lagi. Di situlah gue melakukan refleksi ke dalam diri. Atas apa saja yang udah gue raih, apa yang harus gue capai, dan kenapa gue mengalami kegagalan atau keberhasilan.

Sedangkan waktu gak halangan, gue selalu optimis dan yakin dalam melakukan semua hal. Gue yakin juga Allah bakal bantu gue. Jadi ada perasaan semacam ‘Gue bakal berhasil tanpa perlu tengak tengok’.

Apakah gue salah? Entahlah. Tapi gue mencoba sebisa mungkin menelisik ke dalam jiwa gue. Kenapa, kenapa, dan kenapa seperti ini?

Gue gak punya guru spiritual atau bahkan sedulur papat limo pancer pun gak pernah gue tau gimana wujudnya. Yang gue tau, kita bisa belajar mendengarkan suara batin kita sendiri. Gak perlu sampe ketemu kakang kawah atau adi ari-ari juga.

Gue guru. Awal niat gue ngajar itu baik banget. Lalu niat gue itu terdistorsi oleh berbagai kebutuhan hidup. Maka berubahlah niat gue. Dan setelah gue sadari, ternyata berubah juga semangat dan pola ngajar gue.

Rasa bersalah pun muncul. Tapi setidaknya gue bersyukur, pangeling (peringatan) itu ada dalam kondisi gue baik-baik aja dan tanpa musibah apapun. Mungkin ini yang namanya menyesal sebelum terlambat?

From → Mama Speaks, My Words

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: