Skip to content

Film dan Gambaran Moral Sebuah Bangsa

April 3, 2014

Tadi siang gue nonton drama Thailand. Kisahnya tentang anak sekolah yang jatuh cinta. Biasalah, jadi awalnya secret admirer gitu. Admirernya cewek, idolanya cowok. Beauty and the beast dengan beastnya adalah si cewek.

Awal gue nonton sih biasa aja. Ya gitu deh, filmnya menampilkan cerita remaja yang biasa banget. Asli biasa, karena ceritanya nyata dan itu dialami remaja usia sekolah.

Tiba-tiba gue tersadar. Hello? Sudah berapa lama tayangan remaja Indonesia kehilangan arwahnya?

Waktu gue nonton drama Thailand tadi, gue asli senyum dan ketawa ngakak. Ih gokil, itu semua cerita yang 100% kehidupan nyata. Yah meskipun gak dialami semua orang sih.

Contohnya baca ramalan jodoh, baca buku menggaet pacar, pengen keliatan wow di depan gebetan, dll. Adegannya pun natural. Gak ada tuh yang namanya mata melotot-melotot kayak di sinetron Indonesia.

Si cewek yang tadinya jelek, lama-lama jadi cantik. Si cowok pun akhirnya suka. Hiiih gue sih ogah ya kalo ada cowok yang mau sama gue waktu cakep. Berarti kan dia gak layak karena sukanya cuma sebatas fisik.

Asli biasa banget kan ceritanya? Klasik.

Sebetulnya dulu film dan tayangan kita juga bermutu. Gue inget kok, waktu masih sekolah gue nonton film yang ceritanya ‘Iiiih kita banget tuh’. Cuman sekarang kok enggak.

Tayangan di Indonesia lebih banyak menampilkan kisah cinta remaja yang dipaksakan dewasa pada waktunya. Mereka melulu berpikir soal cinta dengan kadar pemikiran melampaui batas. Tak ada penampilan tentang asiknya mengejar cinta tanpa perlu takut kehilangan.

Kemudian soal pendidikan. Di drama Thailand, memang ditampilkan kesenjangan status dari pemeran. Tapi gak kayak di Indonesia yang lebay. Anak sekolah pake heels, full make up, bahkan tampilan pun seronok.

Gue salut sama Thailand. Negara ini punya industri pariwisata bertabur sex yang terkenal di dunia. Bahkan waktu melihat para pemainnya yang rata-rata blasteran, gue yakin mereka pasti hasil dari ‘industri wisata’ di sana.

Asli gue enjoy waktu nonton dan merasa jadi muda kembali. Beda waktu nonton film atau sinetron remaja Indonesia. Sama sekali gak doyan. Bahkan gue gak rela keluarin duit ke bioskop hanya buat nonton film yang isinya cinta didramatisir berlebihan.

Baiklah, drama Thailand berhasil menyihir penonton di Indonesia karena wajah para aktor dan aktris yang dipilih memang rupawan. Kedua, mereka juga pintar menampilkan cerita segar yang sesuai kondisi remaja. Meskipun kalo buat gue pribadi, semua film pasti ada sisi negatifnya.

Salah satu dari sisi negatif film drama adalah hidup kita pun terbawa drama. Remaja yang belum cukup bekal dan pengalaman hidup, ketika menyelesaikan masalah akan mengikuti cara yang ada di film. Dia pikir itu akan berhasil, padahal apa yang terjadi di film bukanlah suatu lakon nyata di kehidupan.

Film, sinetron, dan produk media akan menghadirkan kesadaran imanen. Apa yang ditayangkan akan terserap di alam bawah sadar bagi penontonnya. Dalam hal ini remaja, mereka bisa meniru apa yang ditayangkan di layar kaca.

Jika film adalah cerminan budaya bangsa, apakah benar bangsa kita mengalami degradasi moral yang luar biasa? Atau itu hanya ciptaan dari para penggarap adegan?

Sekarang lagi rame penolakan The Raid 2 : Berandal karena dianggap tak mencerminkan budaya bangsa Indonesia. Film itu terlalu sadis dan mencitrakan seolah Indonesia adalah bangsa yang beringas.

Di satu sisi gue setuju, bahkan di The Raid yang pertama pun gue pernah mengecam film itu. Luar biasa marah gue nonton film yang menampilkan sisi amoral seolah-olah demikianlah bangsa kita.

Tapi di satu sisi gue sadar. Coba kita lihat, kurang amoral apa lagi bangsa kita? Berbeda pendapat aja bisa jadi pertumpahan darah. Kondisinya sangat panas. Sekali tersulut, sangat mudah bangsa kita ini bereaksi.

Gue belum nonton Berandal. Dan gak mau nonton. Jadi gue gak bikin reviewnya. Cuman dari temen gue yang merupakan kru pembuat filmnya, gue dapet bocoran bahwa filmnya lebih berdarah-darah dari yang pertama. Karena itulah gue yang males liat adegan berdarah ini buat nonton.

Banyak sineas kita yang hebat. Tapi kadang film bagus hasil karya mereka kurang dihargai. Dan masyarakat makin banyak dibodohi dengan tayangan sampah penumpul otak.

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: