Skip to content

Hai Simpatisan Capres : Jangan Lebay!

May 21, 2014

Rasanya mulai muak lihat simpatisan capres yang mulai berkoar soal keunggulan capresnya. Padahal itu adalah keunggulan semu. Mereka tahu semua kebaikan itu kan dari media. You know what? Orang yang ‘dijunjung’ tinggi media harusnya menjadi orang yang paling diwaspadai. Pasti ada sesuatu yang menjadi sebab mengapa dia begitu diunggulkan media.

Kenapa saya sinis?

Karena media kita saat ini berada di tangan penguasanya. Lihatlah Metro TV dan TV One, tak mungkin mereka menjatuhkan Bakrie dan Paloh sebagai owner. Pernah lihat berita tentang anaknya Bakrie yang ‘melabrak’ jajaran redaksi dan marketing Vivanews karena iklan Jokowi masuk di halaman depan Viva? Itu adalah salah satu contoh betapa media dikuasai pemilik dan modal (uang).

Terus capres-capres yang sekarang kan gak punya media tuh, apa mereka ‘bersih’ dari permainan media? Ah gak juga, ingatlah satu hal :  orang yang paling berbahaya adalah orang yang terlihat bersih. Kalau sudah corang moreng lalu diajukan, pasti tak akan ada pemilihnya.

Lihatlah Dahlan Iskan. Awal mula dia muncul sebagai sosok menteri yang low profile. Tampilan sederhana, mau buka gerbang tol waktu macet. Sekarang? Coba lihat beberapa kejelekan yang dia lakukan. Dengan posisinya sebagai menteri, dia menginginkan diakuisisinya saham BTN oleh Bank Mandiri. Seluruh pegawai BTN serentak bergerak dan mendemo Dahlan. Dahlan juga terkenal sering melanggar protokol.  Menteri kok seenak udel.

Yang saya pikirkan adalah : Kalau bos media menjadi presiden, isi berita di mayoritas media mainstream pasti akan dikuasainya.  Yang pinter dan kritis pasti ngerti. Lah kalo masyarakat menengah dan awam? Pasti tahunya “Wah presiden kita hebat”. Kebusukan pasti akan ditutupi dengan propaganda kebaikan sang presiden yang bisa jadi dipalsukan.

Yang rasanya bikin ndugal alias kebangetan, sering kali ada yang sok menyamakan capres tertentu dengan sosok khalifah Islam. Entah Khulaaur Rasyidin, bahkan dengan sembrononya menukil sifat-siat nabi yang katanya amanah. Oh ya? Belum terbukti kan seberapa amanahnya capres itu?

Busuknya belum ketahuan, atau bahkan sudah ketahuan saja mereka tutup mata. Ngeri sebetulnya. Kok sebegitu ekstrem dan fanatiknya membela seseorang. Ok, dari segi psikologi pasti bisa dimengerti. Ketika timbul rasa suka yang berlebihan, maka salah ataupun   benar tak akan jadi soal. Mirip orang yang lagi kasmaran, kalaupun orang yang disukai punya cacat, rasa tak akan pernah putus. Apapun akan dilakukan.

Hal itu yang terjadi pada orang yang tak mau memakai logikanya. Salah atau benar bukan urusan. Yang penting dia suka. Kenapa bisa suka? Salah satunya keblinger dan menelan bulat informasi yang ada.

Saya bukan simpatisan capres manapun. Bahkan saya pun sangat skeptis terhadap berita di media. They shape the facts and influence people’s mind.

Suatu saat, orang yang kita junjung tinggi akan mengecewakan kita. Begitupun sebaliknya.

From → Mama Speaks, My Words

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: