Skip to content

Review Film Maleficent : Bersahabatlah dengan Pemuja Kegelapan!

June 6, 2014

Di balik film hebat, pasti ada agenda dan propaganda besar di baliknya. Termasuk film Maleficent produksi Disney.

Pernah nonton Sleeping beauty? Waktu kecil saya sering nonton karena filmnya selalu tampil di layar kaca. Namun kali ini, Maleficent menghadirkan kisah yg berbeda 180° dibanding versi kartunnya.

Dikisahkan bahwa Maleficent adalah peri terkuat sekaligus ratu di kerajaan Moors. Ketika Maleficent masih kecil, dia mengenal anak laki-laki bernama Stefan. Mereka bersahabat baik, menghancurkan batas perbedaan dan permusuhan antara bangsa manusia dan peri.

Seiring berjalannya waktu, Maleficent dan Stefan tumbuh tak hanya menjadi sahabat biasa. Ada cinta yg tumbuh di antara mereka. Hingga usia keenam belas, Stefan mencium Maleficent untuk pertama kalinya dan mengatakan bahwa itu adalah ciuman cinta sejati.

Waktu berlalu. Stefan menghilang dan tak kunjung kembali.

Kerajaan Moors diserang oleh manusia. Karena begitu kuatnya Maleficent, maka pasukan manusia bisa dipukul mundur. Sang raja yg kalah mengatakan bahwa ia akan mewariskan takhta dan menikahkan putrinya kepada siapapun yg mampu mengalahkan Maleficent.

Stefan berangkat ke hutan. Dia menemui Maleficent dan meyakinkan bahwa dia mencintai Maleficent. Rayuan manis Stefan meluluhkan hati Maleficent dan dia pun tertidur setelah meminum sesuatu dari Stefan.

Ketika Maleficent tertidur, Stefan hendak membunuhnya namun tak sanggup. Akhirnya, dia memotong sayap Maleficent dan memberikannya pada raja. Stefan pun diangkat menjadi raja dan menikah dengan putri raja.

Maleficent sakit hati. Dia berusaha membalas dendam. Dengan kekuatan sihirnya, dia mengubah seekor gagak menjadi manusia. Gagak itu lalu menjadi ‘sayap’ keduanya untuk memata-matai Stefan.

Setelah beberapa waktu berlalu, sang raja memiliki bayi perempuan. Maleficent datang untuk memberi hadiah. Bukan hadiah sebetulnya, namun lebih tepat berupa kutukan.

Dia mengutuk putri Stefan akan menjadi gadis yg cantik dan anggun, namun pada usia ke-16 sebelum matahari terbit, dia akan mati dengan tertusuk jarum pemintal benang. Maleficent mengatakan bahwa kutukannya akan hilang jika Aurora, nama bayi itu, mendapat ciuman dari cinta sejatinya.

Waktu melaju seiring dengan pertumbuhan Aurora. Setiap hari, Maleficent selalu memantau Aurora. Bahkan dia sering mendampingi dan menyelamatkan Aurora ketika gadis itu berada dalam kesulitan.

Mereka akhirnya menjadi akrab.

Ketika sehari menjelang ulang tahun Aurora yg ke16, rahasia tentang Peri Pelindungnya pun terungkap. Aurora kecewa dan sedih, mengetahui bahwa Maleficent adalah peri yg mengutuknya untuk mati. Dia pun lari menemui ayahnya, raja Stefan.

Maleficent mengejar Aurora. Namun terlambat. Aurora telah terkena tusukan jarum sebelum Maleficent sampai membawa Pangeran Philip, pemuda yg disukai Aurora untuk menciumnya.

Aurora mati dalam keadaan tidur selamanya.

Ketika Pangeran Philip menemui Aurora, tiga peri menyuruhnya untuk mencium Aurora. Philip menuruti, namun ternyata Aurora masih tertidur.

Maleficent yg menyaksikan hal itu sedih bukan main. Dia menghampiri Aurora, menyesal telah mengutuknya karena dendam dan sakit hati pada Stefan. Maleficent merasa bahwa dia sangat menyayangi Aurora dan berjanji bahwa tak akan ada yg bisa mengganggu Aurora selama dia masih hidup.

Dengan bersimbah air mata, Maleficent mencium Aurora. Daaan… Mata Aurora pun terbuka!

Kesimpulan :
Yang dimaksud cinta sejati bukan selalu dari lawan jenis. Namun, cinta dari orang yg memang tulus pada kita. Bisa jadi dia ada di dekat kita, tetapi tak mampu kita lihat atau rasakan.

Kedua, film ini mencoba mengubah mainstream yg berlaku. Maleficent tidak sejahat tokoh kartun yg telah lama ada. Di sini ada pemutarbalikkan fakta : bersahabat dengan sosok jahat tidaklah mengapa. Sebab mereka pun sebetulnya baik.

Agaknya ketika film ini ditonton anak-anak, akan tumbuh pemikiran mereka bahwa setan tak selamanya jahat. Maleficent adalah sosok perempuan bertanduk. Kata-katanya yg terkenal adalah “You poor simple fools. Thinking you could defeat ME!? Me, The Mistress of ALL EVIL!”.

Bagian ini menjadi semacam alat cuci otak anak-anak. Mengapa saya bilang anak-anak? Meskipun film ini layak ditonton usia berapapun, tapi targetnya adalah anak-anak. Dunia penuh khayal, cerita fairy tale yg melenakan, dan dongeng masa lampau yg melambungkan imajinasi. Bagi orang dewasa yg telah menggunakan logika, film semacam ini tak akan ada pengaruhnya. Bahkan sangat kecil. Tapi kalau anak-anak? Mereka adalah target empuk untuk ‘disuapi’ doktrin.

Namun, di sini juga ada pesan tentang hati perempuan. Maleficent mengingatkan saya pada kisah Calon Arang, dukun sakti yg punya kelemahan pada anaknya. Ketika perempuan disentuh hatinya, maka kekuatan terbesarnya telah mampu ditaklukan. Yeah, begitulah😀

Ketiga, Maleficent mengungkapkan bahwa dendam dan sakit hati selalu membawa penyesalan. Seperti Maleficent yg menyesal telah mengutuk Aurora, putri Stefan yg akhirnya justru dicintainya dengan segenap jiwa.

Well, silakan menonton dan menilai sendiri. Kita punya sudut pandang yg berbeda pastinya😀

From → Review

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: