Skip to content

Mengapa Shalat Harus Tuma’ninah? Hubungan Antara Akal, Kekuatan, dan Jati Diri

September 2, 2014

Beberapa hari ini saya lagi demen baca buku ‘begituan’. Yah pokoknya tentang pengembangan diri, bahkan sampai brainwave. Tapi dari semuanya, sama persis seperti apa yg guru saya ajarkan 5 tahun lalu : Pasrah, biarkan Tuhan yg berkuasa.

Ketika belajar meditasi, ada kepasrahan yang harus kita lakukan. Pasrah pada bayangan yang muncul dalam benak. Jangan sekali-kali dilawan. Cukup nikmati dan posisikan diri kita sebagai penonton. Lama-lama, bayangan di pikiran kita akan hilang berganti dengan keheningan luar biasa.

Selamat, kita sudah ‘masuk’ ke dalam diri untuk merasakan nikmatnya pasrah. Merasakan bagaimana nur illahi menerobos batin kita yang gelap jauh di dalam diri. Khusyuk.

Kedua, di berbagai musik brainwave otak kita akan dihantarkan menuju gelombang Alfa hingga Theta. Di situlah energi ketuhanan akan sangat terasa. Konon kalau orang sudah masuk gelombang theta lalu berimajinasi dan mensyukurinya, maka apa yang dia bayangkan akan terjadi.

Itulah prinsip LOA (Low of Atraction) yang dicetuskan Rhonda Byrne. Apa yang kita pikirkan, akan terjadi pada kehidupan kita.

Lalu terakhir, tuma’ninah. Mengapa solat harus tuma’ninah? Apa fungsinya? Ternyata jawaban itu baru saya dapatkan tadi. Justru bukan dalam kajian atau diskusi tentang agama, melainkan ilmu pengetahuan tentang otak.

Mengapa tuma’ninah?

Seperti yang terjadi pada saat meditasi dan praktek LOA, ketenangan pikiran sangatlah penting. Pernahkah solat namun banyak ‘film’ di dalam pikiran? Itu terjadi karena kita belum khusyuk. Otak kita masih pada level beta.

Lalu bagaimana caranya agar bisa khusyuk? Tuma’ninah! Satu trik yang bisa saya beritahu sebab sudah dipraktekkan sendiri, caranya begini : tarik nafas dalam secara perlahan melalui hidung, hembuskan melalui mulut secara perlahan pula. Misal setelah baca alfatihah kita mau baca surat pendek, atau ketika rukuk dan hendak takbiratul ihram.

Latihan nafas seperti itu banyak dipraktekkan oleh yogi atau pelaku yoga, meditasi, tai chi, dan berbagai ilmu kekuatan diri lainnya.

Jadi selama ini, tuma’ninah yang saya tau hanya berhenti sejenak. Saya tak pernah berpikiran bahwa ada pengaturan nafas jika kita ingin lebih khusyuk.

Saya rasa, solat adalah olahraga terbaik bagi jiwa raga kalau dilakukan dengan benar.

*disclaimer : saya bukan ahli ibadah atau fiqih, hanya pembelajar yang suka mengkombinasikan ilmu yang saya peroleh. Sebab guru-guru saya di sekolah tak mungkin tau semua hal, maka saya banyak membaca atau bertanya. Mohoh koreksi atau masukan jika ada yang perlu diperbaiki😀

From → Uncategorized

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: