Skip to content

ILLUMINATA #02 : Kerendahan Hati Semu

September 9, 2014

Kita bisa amati bahwa kerendahan hati yang semu dapat berkembang sedemikian rupa sehingga orang bisa MERASA benar-benar rendah hati. Hal ini bisa sangat menakutkan!
Kadang-kadang kita secara tidak sengaja menjadi korban hal ini… Beberapa dari kita, terkadang dituduh kurang rendah hati dan tulus. Oleh karenanya, ada orang yang belajar terlalu cepat dan terlalu keras untuk menjadi rendah hati dan tulus, tanpa PERHATIAN yang benar dan memadai.

Yang dimaksud dengan PERHATIAN yang kurang benar dan kurang memadai adalah bahwa perhatian orang semacam itu hanyalah cukup untuk menjaga pikiran dan perbuatannya terhadap orang lain. Perhatian itu BELUM menembus ke dalam pikirannya sendiri!

Ia bisa menjadi sungguh rendah hati, namun hanya dengan tujuan untuk memberikan kesan yang baik. Dan niat untuk memberikan kesan baik ini terasa seperti AKTUALISASI DIRI yang sehat, padahal ini adalah “KESOMBONGAN” yang justru merupakan hambatan bagi pengembangan spiritual. Orang menjadi tidak jujur kepada diri sendiri dan dunia tanpa menyadarinya.

Para orang bijak tidak memiliki aktualisasi diri karena mereka tidak memiliki diri (ego). Karena tidak memiliki ego, mereka bisa untuk tidak mementingkan diri sendiri. Mereka tidak perlu merendahkan hati karena pada hakikatnya mereka tidak memiliki keangkuhan untuk ditaklukkan. Namun demikian, kita melihat sosok yang menyenangkan secara alamiah dari seorang yang agung, semuanya ALAMI tanpa “perasa” maupun “pengawet”, mengatasi semua pretensi dan pertentangan di dalam batin. Betul-betul damai dan menyegarkan!

Waspadalah terhadap kerendahan hati yang semu—kurangi keterpaksaan untuk menjadi rendah hati—jadilah alami🙂

Catatan: Dalam teori hirarki kebutuhan Maslow yang tersohor, dikatakan bahwa pemenuhan kebutuhan tertinggi seseorang adalah AKTUALISASI DIRI (self-actualization). Tidak banyak yang tahu bahwa menjelang akhir hayatnya Maslow meralat teorinya, yang mana pencapaian tertinggi seharusnya adalah MELEPASKAN DIRI (self-transcendence)—meninggalkan pemuasan keinginan diri nan tiada habis.

From → Spiritual

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: