Skip to content

Yang Terjadi Ketika Berpasrah Diri

September 27, 2014

Beberapa waktu ini saya coba ‘memaksa’ diri menjadi hebat. Yang ada hanyalah kolaps dan merasa jatuh. Kekuatan diri, kekuatan pikiran, dan lain-lain tak membuat lebih baik.

Pernah saya belajar self hypnosis pada teman-teman dan coach ternama. Berhasil hanya sebentar, lalu kembali down. Semua usaha saya coba umtuk mendapatkan the ultimate power of human. Kekuatan diri tanpa batas.

Lalu saya tersadar.

Saya telah melupakan unsur terhebat yang pernah ada. TUHAN.

Mungkin tak akan jadi soal ketika saya adalah orang atheis. Pikiranlah yang saya andalkan untuk menguasai dan mendapatkan apa yang saya inginkan. Tetapi saya percaya pada Tuhan dan segala kekuatan Maha Dahsyatnya.

Maka, luar biasa. Ketika sudah memasrahkan diri total, segala kemudahan seolah tertarik mendekat tanpa pernah saya sangka. Saya memikirkan ingin melakukan A untuk sesuatu, belum lagi saya lakukan, sudah ada orang yang meminta saya untuk mengerjakannya. Padahal saya sendiri masih berkutat pada pembagian waktu yang cukup sulit saya urai karena kesibukan pekerjaan. Dan masih banyak lagi keajaiban yang terjadi.

Oleh guru saya, contohnya diajarkan cara jika ingin mendapatkan uang 5 juta maka harus begini dan begitu. Namun ketika saya pasrah, Allah memberi jauh lebih banyak dari nominal itu. Namun jangan salah artikan. Pasrah yang saya lakukan bukan berarti tanpa usaha. Saya berpasrah sejak awal niat hingga mendapat hasil. Saya pasrah, apapun yang saya lalukan semua hanya Allah yang tau hasilnya.

Guru saya sudah banyak meng-coach orang dan mereka berhasil. Tetapi saya beruntung sebab Allah menyelamatkan saya. Saya tak terjebak pada pengkultusan kekuatan diri ataupun kehebatan guru saya.

Jangan pernah mendikte Tuhan akan hasil usaha kita.

Pada pembelajaran hidup ini, saya ingat diri saya yang dulu. Saya selamat dari jerat ilmu sihir ketika pasrah. Saya lolos dari jerat fitnah yang memalukan karena saya pasrah. Saya pun tetap berdiri tegak ketika digoncang masalah yang pasti akan membuat dunia saya hancur karena saat itu saya berpasrah. Dan kini, tak ada salahnya saya pun memasrahkan segala usaha dan diri saya pada Yang Maha Kuat.

Seperti quote dari Simon Weil, “Bukan urusan saya untuk memikirkan diri saya sendiri. Urusan saya adalah memikirkan TUHAN, dan urusan TUHAN untuk memikirkan diri saya.

Segala usaha, niat, mestinya tak boleh lepas dari unsur Ilahi. Mari kembali pada kekuatan hati🙂

From → Uncategorized

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: