Skip to content

Cara Dicintai dan Dipatuhi Anak-Anak

April 20, 2015

Mereka adalah anak-anak yang pertama kali ku ajar privat. Pemasukan dari mereka sangat membantu dibanding gaji mengajar di sekolah. Dan tadi, neneknya mengatakan hal yang membuatku terkejut sekaligus terharu.

“Anak-anak ini sayang banget lho sama mbak Evi. Katanya kalo les ke kos, mereka mau bawain makanan. Soalnya mbak evi gak punya kompor”

Ah! Seketika aku menegang, mengingat percakapan kami semalam di kos. Aku menceritakan bahwa di kos ini tak bisa memasak, sebab ruangannya didesain untuk kamar ber-AC. Dengan polosnya, mereka menanyakan banyak hal.

“Terus Bu Evi kalo mau makan beli terus dong? Kan gak sehat masakan beli”, celetuk kakaknya.

“Iya kalo makan beli kan pake mecin, gak sehat. Kata mama makannya di rumah aja,” tambah adiknya.

Si kakak kelas 6 SD, sedangkan adiknya kelas 5. Mereka berdua selalu les bersama di kosan dan termasuk anak yang pintar plus rajin. Tak susah mengajari, karena daya tangkapnya cukup cepat.

Tapi sering pula mereka menanyakan hal-hal di luar pelajaran. Contohnya apa itu migrain, kenapa orang suka motor buatan jepang padahal jepang sudah menjajah Indonesia? Dan banyak pertanyaan lainnya.

Bersama anak-anak membuatku belajar banyak hal, terutama bagaimana menjadi ibu yang baik dan cerdas. Baik dalam bersabar, cerdas dalam menjawab pertanyaan polos mereka. Sebab itulah aku sampai dijuluki guru les paling sabar.

Memang aku selalu menahan emosi. Aku selalu mencoba menyatu dengan hati mereka. Pun ketika aku masih menjadi guru di sekolah formal. Bedanya, ketika menjadi guru privat aku tak mengalami tekanan apapun. Aku bebas mengajar dengan gayaku dan menyatu dengan anak-anak, karena itulah banyak anak yang tak mau diganti dengan guru lain. Aku sudah mencari pengganti, tapi anak-anak keberatan.

Kesabaran.

Satu kata, banyak usaha. Dan betapa aku mulai tersenyum melihat kesabaranku berbuah hasil manis. Bukan dalam bentuk materi. Karena ternyata selain kenaikan prestasi belajar, anak-anak yang ku ajar pun menyayangiku.

Dan… Demikian pula aku, menyayangi mereka sebagai pengajar, pengasuh, sekaligus partner. Yup, ilmu yang luar biasa mahal untuk masa depanku ketika sudah menjadi ibu. Allah memberiku ilmu melalui proses otodidak, bukan lewat seminar parenting ataupun buku. Meski demikian, aku sudah punya rencana mendalami psikologi anak dan remaja🙂

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: