Skip to content

Mengajarkan Shalat dan Puasa Kepada Anak

May 1, 2015

Suasana malam itu cukup dingin. Angin muson barat yang berhembus kencang membuat tubuhku meringkuk di dalam angkot jurusan Setiakawan, Bekasi. Perut yang kelaparan karena belum diisi makin menambah payah keadaanku.

Sebetulnya aku tak merasa lapar, hanya diserang dehidrasi luar biasa. Aku masih bisa menahan lapar, namun tak kuasa ingin segera membasahi kerongkongan.

***

“Kakak kenapa sih puasa? Kan ini bukan bulan puasa. Mbak Nisa juga”, tanya anak di hadapanku. Matanya penuh dengan rasa ingin tahu.

Seperti biasa, aku mengusap kepalanya. Kebiasaan itu selalu ku lakukan ketika ingin menenangkan murid privatku, baik dalam memberi penjelasan ataupun memintanya mengerjakan soal.

“Kalau puasa, itu gak sebatas bulan ramadhan aja. Tapi di bulan lain pun bisa. Yang wajib memang ramadhan, semuanya wajib puasa. Tapi kalo bukan bulan ramadhan, kita juga bisa puasa sunah”. Sengaja ku hentikan penjelasan, mengamati wajahnya.

Kemudian ku lanjutkan, “Ka evi sama Mbak Nisa hari ini puasa karena puasa sunah. Ada banyak juga puasa sunah, contohnya puasa Senin Kamis. Atung juga bisa puasa sunah kalo mau, biar disayang sama Allah”.

Rasa penasaran mulai ku tangkap lagi dari wajahnya dengan ciri-ciri jidat berkerutnya. “Terus, kalo puasa sunah itu mulainya dari jam berapa sampe jam berapa?”

Haha! Inilah mengapa aku suka anak-anak, mereka polos dan pertanyaannya selalu memancingku berpikir.

Aku menaruh tanganku di punggungnya, mengusap lembut sambil berkata “Sama seperti puasa ramadhan, dari subuh sampai nanti adzan magrib. Bedanya, puasa sunah itu gak wajib. Gak dikerjain juga gakpapa. Cuman kalo Atung pengen disayang Allah, rajin puasa sunah. Sama sooooolat”

Kepalanya pun manggut-manggut. Dia pernah bercerita bahwa puasanya tak pernah bolong. Aku pikir itu puasa setengah hari, ternyata dia mampu melakukan puasa sampai magrib sebulan penuh. Menurutku itu cukup luar biasa.

Setelah memandangku beberapa saat, pandangannya beralih ke depan. Seringkali ku lihat dia seperti merenung. Lalu ku ajukan pertanyaan.

“Atung udah sepuluh tahun kan? Dalam Islam, anak yang udah berumur sepuluh tahun boleh dipukul kalo gak mau solat. Karena solat itu ibadah nomer satu yang wajib kita kerjakan sebagai seorang muslim. Atung udah syahadat kan? Udah islam kan? Kalo gitu wajib solat”.

Secara mendadak pandangannya beralih ke mataku, terkejut dan takut.

Tak lama, adzan maghrib terdengar. Dia langsung mengajakku untuk mengambil wudhu.

***

Kegiatan seperti itulah yang membuatku merasa hidup. Meski murid yang ku ajar tak seberapa banyak, tapi aku tak pernah mendapat benturan secara struktural dalam mengajar. Kurikulum, standar, dan semuanya tak membelengguku sama sekali.

Inilah yang membuatku bebas. Aku ingin hidup bebas dengan kecukupan, serta tetap memberi manfaat. Ternyata ladang amal tak harus selalu jadi guru di sekolah kan? Apalagi kalau honornya untuk makan saja tak cukup.

Bukan hanya uang yang aku cari selama mengajar. Kedekatan dan kasih sayang, serta pesan moral pun pasti ku beri. Entahlah, di sekolah formal aku tak bisa melakukan itu karena berbagai benturan.

Maka malam itupun aku melanjutkan ke murid privatku yang kedua. Mengingat wajahnya, aku kembali tersenyum🙂

From → Mama Speaks, My story

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: