Skip to content

Gurunya Suka Anime dan Kartun, Muridnya Suka Fifty Shades of Grey?

May 15, 2015

Novel karya EL James itu pernah ku baca. Walau tak sepenuhnya, sebab rasanya jengah membaca novel stensilan seperti itu. Sadomastik dan…eww psiko? Aku yakin, siapapun yang baca novelnya pasti terpengaruh mengikuti perilaku Christian Grey.

Yang mengejutkan adalah ketika muridku pernah menonton filmnya. Hey, miss yang udah baca novelnya aja gak mau loh nonton filmnya!

Bahkan mereka tergila-gila dengan sosok Jamie Dornan sebagai pemeran pria karismatik kaya raya yang jatuh cinta pada gadis biasa. Dan pria itu adalah Christian Grey, sang sadomastik.

Aku sendiri tak begitu tertarik pada film baru. Aku menghabiskan banyak kuota untuk streaming anime dan baca manga. Baru saja seri Naruto lengkap telah ku selesaikan dari episode 1 plus Shippuden dan sekarang sedang menikmati serial Naruto Gaiden.

Aku suka Rurouni Kenshin, Inuyasha, dan terakhir Naruto. Dan sedang berpikir untuk mencari kartun lain yang bernuansa pedesaan atau jaman feodal. Sedangkan untuk film, minatku belum begitu besar. Kalau ada film bagus pasti ku tonton di bioskop, bukan download.

Pengaruh Internet

Baik, di balik kekagetanku tentang para murid yang sudah pernah menonton Fifty Shades of Grey, aku sadar bahwa kemudahan mengakses internet menjadi salah satu penyebabnya.

Di masa kuliah, aku juga suka download film puluhan gigabyte dengan cara pakai wifi kampus. Sekarang karena sudah kerja dan punya penghasilan sendiri, aku lebih suka download di handphone atau PC dengan wifi pribadi.

Ketika jadi guru di sekolah, aku juga pernah mendapat film Thailand dari muridku. Mereka biasa melakukan penyebaran film dengan the power of words. Kalau ada satu orang nonton dan dia merasa puas, dia akan ajak temannya lagi untuk nonton. Bahkan memberi copy filmnya.

Yang aku khawatirkan, film sejenis Fifty Shades adalah film dewasa dan banyak adegan panas. Bagaimana jika itu mempengaruhi perilaku seksual mereka? Sebagai (mantan) gurunya, aku hanya bisa berpesan bahwa mereka harus cerdas memilih tontonan.

Kalau gurunya yang notabene lebih dewasa saja tak mau nonton, mengapa mereka yang masih kecil nekad nonton, bahkan amat menyukainya?

One Comment
  1. “Kalau gurunya yang notabene lebih dewasa saja tak mau nonton, mengapa mereka yang masih kecil nekad nonton, bahkan amat menyukainya?”

    ‘Baik, di balik kekagetanku tentang para murid yang sudah pernah menonton Fifty Shades of Grey, aku sadar bahwa kemudahan mengakses internet menjadi salah satu penyebabnya. ”

    Sepertinya bertanya sesuatu yg sudah dijawab sendiri juga ya..:) salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: