Skip to content

Aku Akhiri Petualangan di Sini

August 8, 2015

Malam ini aku sengaja pulang telat, meski harusnya sudah bisa di rumah sejak sore. Beberapa tempat sengaja ku singgahi, menikmati memori di waktu dulu. Ah, enam tahun terasa begitu cepat.

Aku ingat, di bulan Juli tahun 2009 diriku harus berjuang bolak-balik kampung halaman demi mendaftar kuliah. Saat itu aku mendapat info beasiswa penuh empat tahun, tapi syarat pendaftarannya maksimal 31 Juli. Sedangkan aku baru baca infonya tanggal 27 Juli.

Maka jadilah tubuhku dihajar lelah di jalan mengurus semua kelengkapan dokumen. Tapi tak apa, sebab perjuanganku berbuah manis. Aku bisa menikmati kuliah tanpa biaya selama empat tahun penuh. Alhamdulillah!

Mungkin aku akan merindukan suasana di sini. Pada jalanan sepi di fly over dekat kos, pada beraneka ragam makanan yang mudah didapat, pada keramaian malam yang dinginnya senantiasa membuatku ringkih, dan pada gemerlap tempat-tempat hiburan yang pernah aku kunjungi.

Aku terbiasa berjalan sendiri. Sama seperti masih bekerja sebagai wartawan dan pulang tengah malam. Pernah, aku sampai diisengi orang yang menyangka diriku PSK hanya karena menunggu angkot di tempat yang salah. Pernah, aku diam di angkot dengan trayek lumayan jauh hanya untuk menikmati pemandangan malam ketika pintu-pintu toko sudah tertutup. Pernah, aku begitu terkaget melihat parade malam di pinggir jalan yang diisi para penjaja cinta.

Tidakkah aku takut?

Tentu saja takut!😀
Tapi aku percaya Tuhan-ku selalu melindungi. Aku pun berpenampilan baik, dengan wajah yang kata orang cukup baik. Make up pun hanya bedak dan lipstik tipis. Kalau bulu mataku lentik dan alis mataku tebal, jangan salahkan aku. Itu sudah ku peroleh sejak lahir. Sama sekali tak ada usaha membuatnya tebal.

Lalu, siapa yang berani menggoda? Kalaupun ada, pasti karena dia sakit jiwa. Atau mungkin karena saat itu kadar feromonku cukup tinggi sehingga mereka berbelok dari jalan lurus menuju ke arahku. Minggir, berharap bisa membawaku.

Bangga? Tidak! Justru itu menyebalkan. Kalau kamu seorang perempuan berjilbab didatangi laki-laki dengan wajah mesum, bukankah itu pelecehan?

Aku punya tempat favorit di sini. Aku punya orang-orang yang aku sayangi sepenuh hati. Mereka sudah ku anggap sebagai saudara. Di saat yang lain pergi meninggalkanku, merekalah yang hadir menyemangatiku. Bagaimana mungkin aku melupakan orang yang ada di kala aku susah? Mereka yang membuatku ingat bahwa Tuhan-ku senantiasa akan menerima pertobatan meski dosa telah berkerak bagai besi berkarat. Mereka juga selalu membantu dengan aksi, bukan hanya mengobral kata.

Aku sudah merasa cukup. Empat tahun kuliah, dua tahun kerja. Semua bumbu kehidupan, baik yang enak maupun pahit sudah aku cecap. Pun dengan segala keterpurukan yang akhirnya membuatku bangkit lebih tegar. Aku cukupkan petualanganku di sini. Saatnya aku mengakhiri dan berlabuh pada tempat baru.

From → Mama Speaks, My story

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: