Skip to content

Hujan dan Kecup Basah

November 7, 2015

Hujan selalu mampu menghidupkan kenangan. Membawa kabut-kabut memori yang tersimpan rapih dalam ingatan kembali tersibak. Seperti pagi ini, ketika aku membuka mushaf dan sampai pada surat ke-83, sosok itu kembali menghiasi kepalaku.

Aku ingat, betapa bosan wajahnya ketika ku minta untuk menghafal.

“Ah Kak, lanjut besok aja ya. Aku gak bisa”, keluhnya sambil pura-pura menguap.

“Gak bisa, kalo lanjut besok nanti Atung alesan lagi. Lusa kan gak ada pelajaran Alquran”. Aku menolak mengabulkan permintaannya. Dia ini cerdas, selalu banyak akal untuk berhenti belajar. Ijin ke toilet, ambil makanan, pusing, lapar, bahkan sampai p*p.

“Kan masih banyak waktu Kak. Lagian aku bisa kok lanjut di sekolah”. Kali ini dia memasang wajah super manis. Ah, senyum itu! Hampir saja aku luluh.

“Inget gak hadis yang Kakak kasih tau? Barang siapa yang pintar ngaji Alquran, Allah menempatkan posisinya sama seperti malaikat. Teruuusss.. Barangsiapa yang gak bisa baca Alquran tapi mau belajar walau gak lancar, Allah kasih pahala dua kali lipat dibanding yang pinter ngaji. Jadi gimana?  Mau gak Atung nanti punya banyak pahala, terus Ayah juga dapet pahala dari Atung”.

Sejenak dia berpikir. Dahinya berkerut bak CEO yang memikirkan kemajuan perusahaan. Inilah yang membuatku jatuh cinta padanya. Di usianya yang kesepuluh, dia terkadang berpikir dan bertindak seperti orang dewasa.

“Ayah aku bisa dapet pahala juga?”, dia kembali memastikan. Menatapku dengan penuh kesungguhan.

“Iya dong. Kalo Atung jadi anak soleh, nanti Atung bisa jadi tabungan Ayah pas Ayah udah meninggal. Atung sayang Ayah kan?”

“Ya udah, aku ambil minum dulu terus kita lanjut ya”.

Yes! Saat itu aku merasa menang. Menang melawan amarah karena sifat malasnya, menang melawan rasa jengkel karena berjuta alasannya untuk berhenti belajar, dan menang melawan rasa bosanku mendengar dia menghafal berulang kali, namun tak kunjung lancar.

Dan saat ini, aku mengingat malam ketika kami berpisah. Di malam berhias hujan dan suasana sendu. Kala itu aku mengecup pipinya. Sebuah kecupan basah karena airmata, dan pedih karena perpisahan.

Dia yang membuatku tahu, apa makna menjadi seorang guru, ibu, Kakak, dan story teller. Sebab dialah murid pertama yang membuatku merasa seolah harus menaklukan tingkah bandel dan pembangkangnya. Ya, Tuhan terkadang memberi saat sulit hanya agar kita belajar.

Sama seperti kenanganku bersamanya. Ketika kami sudah sangat dekat. Ketika aku sudah menyayanginya seperti adik sendiri. Dan ketika hari-hariku sudah selalu diisi bersamanya, Tuhan punya rencana lain.

Sebuah perpisahan.

*Update: Tulisan ini diposting sekitar pukul 05.05 dan pukul 08.00 anaknya kontak via whatsapp. Chemistry, huh? 😂😂

Posted with love kiss 😘

From → Mama Speaks, My story

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: