Skip to content

Perempuan dan Karir : Ketika Anak Harus Ditinggal Ibunya Bekerja

April 10, 2016

“Mau gimana lagi, kalo gak kerja begini terus gimana anakku?”. Perempuan di hadapanku itu sesenggukan. Matanya berkaca menahan air mata. Enam tahun sudah dia menjadi single parent. Segala kebutuhan anaknya dia penuhi, meski bapaknya masih hidup.

Lina telah lama berpisah dari suaminya. Dengan dalih tak cocok lagi, mereka sepakat untuk bercerai. Namun sayang, mantan suaminya tak pernah sedikitpun mempedulikan kebutuhan Sari, buah hati mereka.

“Dia memang bapak yang bejat!” Kesal hati Lina membayangkan perlakuan mantan suaminya itu.

“Kamu tau, waktu kami nikah dia selalu ngeluh kalo aku minta uang belanja. Aku gak masalah kalo dia gak cinta aku. Tapi ini.. Sari itu anaknya! Dasar manusia gak punya hati!”

Gemuruh di dada Lina makin membuncah. Makin benci saja ia pada lelaki yang pernah menjalani biduk rumah tangga bersamanya itu. Perkawinannya yang memasuki angka tiga berbuah perceraian di saat Sari berusia dua tahun.

Aku menghela napas. Berat, sekaligus iba. “Terus kamu mau apa? Mau terus-terusan ninggalin anak kamu dengan dalih kerja? Kamu gak mikir kalo dia butuh kasih sayang ibunya? Kamu gak kasihan, kalo suatu saat dia lebih suka cari kasih sayang di luar? Dia cewek, Liiin. Kamu tau kan maksud aku?”

Aku mencoba membuka pikiran Lina. Dulu ketika masih jadi seorang feminis, aku pun pernah terjebak pada pemikiran sempit bahwa pernikahan hanyalah penindasan nyata bagi kaum perempuan. Untuk apa menikah kalau akhirnya dijajah, dibunuh karir kita?

Ku lihat Lina. Sahabatku ketika masih SD ini menikah di usia yang sangat muda. Aku tau, dulu dia termasuk kategori anak cepat matang. Fisiknya terlihat sudah dewasa dibanding usianya. Mungkin itu pula yang menjadikan mantan suaminya amat terburu menikahinya.

Lina yang masih duduk di kelas dua SMP terpaksa meninggalkan bangku pendidikan. Dia beralih dari seorang anak gadis menjadi istri lelaki yang merupakan tetangganya itu. Dalam usia empat belas tahun.

“Kamu enak, kamu sarjana. Aku cuma punya ijasah SD. Aku mau kerja apa di sini? Buat modal aja gak punya uang”. Kali ini mata perempuan berbodi subur di depanku itu mulai banjir air mata.

Aku menghela napas, tanganku menggapai bahunya. Aku memeluknya erat. Ku biarkan dia puas menangis dan balik memelukku. Pelukan memang selalu bisa menjadi peredam emosi. Ah, rasanya aku juga butuh!😀

Setelah agak mereda tangisnya, aku menatap dalam matanya. Agak berat, tapi aku harus mengatakan apa adanya.

“Lin, coba kamu kurangi gaya hidup kamu. Aku lihat kamu sering belanja yang tak perlu. Baju baru, makan-makan di luar. Aku tau kamu butuh hiburan, tapi uang yang kamu pakai untuk segala kesenangan itu bisa kamu pakai buat modal”. Aku berhenti sejenak, melihat ekspresinya. Matanya melihat ke arahku.

“Kamu bilang, untuk biaya hidup sebulan tiga juta aja gak cukup. Itu kamu kasih makan berapa orang? Apa setiap hari kamu makan daging sama ayam? Aku tiap hari masak. Aku tau berapa pengeluaran kalo belanja, jajan, dan hura-hura. Pertanyaanku, kamu lebih banyak mana pengeluarannya?”. Lina terkejut mendengar kalimat terakhirku.

Biarlah, aku memang ingin kawanku itu sadar. Aku kasihan pada anaknya, selalu nampak kelaparan ketika datang ke rumahku. Kenapa anak dari ibu yang punya uang bisa kelaparan begini? Maka aku lihat gaya temanku itu. Sungguh glamor dan stylish, berbalik dengan kondisi anaknya yang cenderung kumal dan wajahnya memelas itu.

“Tapi… Aku bisa kerja apa? Jualan apa yang laris?”

Aku menatap matanya. Lebih tajam dari sebelumnya.

“Aku kasih ide, asal kamu mau tetap di sini bersama anakmu. Gimana?”

Tampak merenung sejenak, Lina kemudian menjawab, “Oke”.

Percakapan itupun berakhir. Aku memberinya ide agar dia tetap bisa mencari penghasilan bagi anaknya. Sebagai perempuan, aku pun sedikit mengerti kesulitan Lina. Dulu dia menikah dengan menjadi ibu rumah tangga 100%. Hingga setelah cerai, kehidupannya serasa terombang-ambing sebab tak ada penghasilan sama sekali.

Aku bersyukur, sebab calon suamiku mengijinkanku untuk tetap berkarya dan berkarir. Kami bahkan telah merancang bersama usaha yang ingin kami bangun. Aku bilang padanya, apapun yang terjadi, aku ingin bisa mengasuh anak kami dengan tanganku sendiri. Bukan dititipkan pada siapapun. Karena itulah, aku ingin punya usaha sendiri sehingga bisa mengatur waktu mengasuh anak.

Aku tak ingin seperti ustad seleb yang menjatuhkan perempuan pekerja. Sebab aku pun dibesarkan dengan penghasilan ibuku yang bekerja di luar. Tapi aku pun banyak melihat kehidupan rumah tangga yang ibunya tinggal di rumah. Mereka tak nampak kekurangan. Bahkan, anak dan suami terlihat lebih terjamin kebutuhannya. Ada sosok ibu sekaligus istri yang bisa masak dan menyiapkan keperluan mereka sehari-hari. Betapa indahnya.

Anak adalah investasi dunia akhirat. Maka sebagai ibu, aku ingin berinvestasi yang baik. Pernyataanku ini bukan mendiskreditkan para ibu yang berkarir di luar dan menitipkan anaknya. Aku pun tau, bahwa beberapa perempuan tetap harus bekerja demi membantu suami mencari nafkah.

Tapi aku percaya, penghasilan tak mesti dicari dengan bekerja di luar. Atau dengan kata lain : jadi karyawan orang. Kita tak bisa mengatur waktu, karena boss lah yang akan mengatur kita. Maka dari itu, aku usahakan sekali agar bisa berwirausaha. Sebab aku ingin punya lebih banyak waktu untuk anakku. Untuk suamiku, dan untuk lebih banyak orang yang aku kasihi.

*Lina dan Sari bukan nama sebenarnya, tapi kisah mereka nyata*

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: