Skip to content

Lebih Enak Dimanfaatin Orang

April 11, 2016

image

Menurut hadist, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Lalu apa yang sudah kita lakukan? Manfaat apa yang kita berikan untuk orang lain? Aku terpaku, ketika sahabatku yang punya banyak uang tetap hidup sederhana. Sebetulnya tak sederhana amat, dia punya mobil, rumah, dan uang yang selalu dibelanjakan.

Loh, gitu kok dibilang sederhana?

Iya, semua yang dimilikinya itu dipakai untuk menyenangkan orang lain. Rumahnya sering menjadi tempat singgah saudara-saudaranya. Isi kulkas melimpah, kamar yang nyaman, dan segala kebutuhan pasti dipenuhi jika ada yang menginap di rumahnya.

Mobilnya pun tak jarang dipinjamkannya pada yang membutuhkan. Uang? Jangan ditanya. Dia luar biasa royal. Tak pernah aku melihatnya jauh dari makanan. Apakah dia suka makan? Tidak juga. Makanan itu dibagikannya pada orang yang mengunjunginya, baik yang dikenal ataupun tidak.

Saat aku tanya mengapa dia melakukan hal itu, dia menjawab bahwa dia hanya ingin ketika meninggal akan ada orang yang mendoakannya. Mengingat kebaikannya.

Hatiku bergetar mendengarnya.

Aku, yang saat itu masih belum mampu menolong banyak orang sepertinya masih terkadang mengeluh jika ada teman berkunjung. Alah, dasar modus lo. Dateng pas butuh doang. Ke mana aja lo selama ini. Ditelen bumi? Terbang ke Mars?

Begitulah. Begitu buruk mindset ku waktu itu.

Namun alhamdulillah, semua berubah setelah aku mengubah pergaulan. Dari kawan-kawan itulah aku mendapat pencerahan hidup. Aku mulai menghilangkan sifat egosentris dan materalialistis. Aku lebih banyak berpikir bagaimana caranya agar banyak orang yang bisa merasakan manfaat dariku.

Sekarang aku telah menemukan jalanku. Saat ini aku mempunyai beberapa murid belajar. Dari awal, niatku memang ingin berbagi. Namun, besarnya pendapatan dari mereka membuatku agak goyah. Aku mulai berorientasi uang. Padahal, aku sendiri bekerja di perusahaan teh dengan gaji yang lumayan mencukupi.

Namun, sekarang aku sudah resign. Aku ingin kembali menata hidupku. Kembali pada rutinitas ibadah yang tak mungkin dilakukan di pabrik. Kembali pada visi hidupku : bermanfaat bagi orang lain.

Maka, aku memutuskan untuk membuat rumah belajar dengan biaya gratis. Setiap sore pukul 16.00 – 17.30 rumahku penuh dengan anak-anak. Mereka semua murid SD dari kelas 1-6. Aku mengajari semua pelajaran, tetapi dengan syarat mereka harus menyetor hafalan surat pendek sebelum mulai belajar. Lalu, aku juga memberikan beberapa game dan ice breaking agar mereka lebih semangat belajar.

Pada awalnya mereka bertanya. Kenapa gratis, Bu?

Aku menjawab “Biar Allah aja yang bayar. Yang penting kalian semangat, Bu Epik juga semangat ngajarnya :D”

Dan suara koor dari mereka pun terdengar “Ooh buat amal ya”.

Sebetulnya, impian memiliki rumah belajar sudah ada di benakku sejak duduk di bangku sekolah. Aku ingin membuat sekolah gratis untuk kaum dhuafa dan anak yatim. Hingga di Bekasi, aku pernah ingin menyewa rumah dan ku pakai untuk tempat mengajar anak-anak kurang beruntung itu.

Alhamdulillah, semua terwujud di sini.

Meski belum seberapa besar, semoga bisa bermanfaat bagi orang lain. Aamiin🙂

From → Uncategorized

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: