Skip to content

Begini Sakitnya Mengharap dan Kena PHP

May 11, 2016

Dia membuka tasnya, mengeluarkan ponsel yang sudah berdering beberapa kali. Tertera sebuah nama yang tak begitu ia inginkan. Ergh, dia lagi!

“Halooo”, sapanya malas.

“Hai Si. Lo ada waktu gak nanti malem? Jalan yuk!” suara di seberang sana begitu antusias. Berdesir darahnya tatkala panggilan teleponnya akhirnya terjawab.

“Aduh Mo.. Sori, gue gak bisa. Lain kali aja ya, gue lagi gak enak badan.”

“Lo sakit Si? Gue jenguk ya. Lo mau makan apa? Biar gue beliin.”

Bimo, lelaki yang begitu sabar mendekati Sisi. Puluhan sms dan pesan di messengernya sering tak dibalas. Belasan teleponnya pun sering di-reject, tetapi Bimo tetap tak gentar mendapatkan Sisi, gadis yang pernah dekat dengannya.

***
Desember yang basah.

Bimo terpekur sendirian. Dia baru putus dari pacarnya. Padahal sudah dua tahun lama hubungan mereka. Orangtua pun sudah saling kenal. Namun, di saat Bimo mengutarakan niatnya untuk melamar pacarnya, gadis itu justru menolak.

“Aku masih pengen kuliah mas. Aku baru ambil beasiswa ke Aussie.” begitu kilah gadis jurusan Hubungan International UI tersebut.

Malang bagi Bimo. Tak hanya ditolak niat baiknya, lelaki yang kini menginjak usia 27 tahun itupun diputus oleh pacarnya.

“Kita udahan aja ya mas. Aku gak bisa LDR. Takutnya nanti salah satu dari kita ada yang gak setia, malah sakit kan? Lagian Mas Bimo udah pengen merit. Gakpapa, jangan tunggu Dinda mas.”

Meski remuk redam hatinya, Bimo tetap bisa tegar menerima keputusan Dinda. Bahkan, dia sempat mengantarkan kepergian Dinda ke bandara. Setidaknya, Bimo senang karena hubungan mereka berakhir baik-baik.

“Jaga diri kamu baik-baik ya Dinda. Semoga suatu saat bisa jadi diplomat sesuai cita-cita kamu.” ucap Bimo sambil memandang mantan kekasihnya.

Ah, Dinda memang cantik. Wajah dan sikapnya yang kekanakan membuat Bimo sering tak berkutik menolak segala permintaannya. Tapi kini, wajah itu sedang berusaha dihapusnya.

Gue harus move on. Begitu tekad Bimo.

Dan di saat Bimo sedang patah hati, muncul lah Sisi. Dia adalah teman kuliah Bimo di jurusan Teknik Sipil. Mereka bertemu secara tak sengaja di sebuah acara reuni. Melihat pembawaan Sisi yang ceria dan nampak… single, Bimo pun tertarik untuk mendekati Sisi.

Mereka sering jalan, makan, dan nonton. Bimo makin merasa punya peluang mendapatkan Sisi karena gadis yang kini menduduki posisi sebagai media relation di sebuah perusahaan BUMN itu selalu bersikap manis padanya.

Bimo merasa yakin, Sisi adalah gadis yang tepat untuk menggantikan Dinda. Hingga akhirnya, Sisi mulai menjauh perlahan. Telpon dan pesan dari Bimo jarang dibalas. Ajakan keluar untuk jalan pun sering ditolak. Alasannya ada rapat, tak enak badan, atau sedang ada dateline.

Bimo tak putus asa. Dia adalah pria yang cukup matang menghadapi wanita. Sabar dan tak usah buru-buru, itulah prinsip Bimo.

Namun, lelaki yang sudah mapan dan punya usaha rental mobil itu tak tau, bahwa dia bukan satu-satunya lelaki yang sedang dijauhi Sisi. Gadis yang tengah memasuki usia seperempat abad itu juga pernah dekat dengan beberapa lelaki.

“Kita cuma temen”, selalu begitu kilahnya.

Kini, ‘temen-temen’ yang dimaksudnya tengah gelisah. Bertanya-tanya mengapa Sisi menjauh darinya. Apakah ada sikap dan perkataan yang meyakiti Sisil? Atau karena Sisi sedang benar-benar badmood?

Lelaki bukan peramal yang baik. Pun bagi Bimo. Pengalaman berhubungan dengan perempuan menjadikannya paham arti sikap Sisi. Tapi dia tak ingin mundur, sebab pantang baginya mengakhiri sesuatu yang belum tuntas.

Setidaknya, sampai dia mendapat kejelasan atas sikap dan perasaan Sisi padanya.

***

Di sudut kota metropolitan terbesar di Indonesia, di sebuah kamar yang berantakan seperti isi hati dan kepala penghuninya.

Sisi menangis sesenggukan. Dimas, lelaki yang begitu dia sukai ternyata sudah punya kekasih. Pecah tangisnya melihat laki-laki yang telah coba ia dekati merangkul mesra perempuan di depan matanya.

Sisi tak tau, begitu pula perasaan laki-laki yang pernah didekatinya, lalu dia tinggalkan begitu saja.

Kalau saja Sisi dan para ‘korban’nya ingat kalimat Hasbiyallah (cukuplah Allah bagiku), maka tak akan pernah perih hati mereka karena sebuah pengharapan. Dan tak akan sia-sia penantian mereka, sebab janji Tuhan itu pasti.

***

Sebuah cerita yang terinspirasi dari curhatan sahabat gue. Jaman sekarang lagi ngetren istilah PHP karena dua hal : si pelaku memang PHP-er sejati, atau si korban yang kegeeran dan terlalu ngarep. Hati-hati ya, jodoh bisa ngegantung kalo kita masih suka PHP😀

From → Mama Speaks, My story

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: