Skip to content

Gue Anime Lover dan Gue Bukan Sampah!

February 9, 2018

Ada kalanya gue senyum dalam hati saat orang manggil gue mas, bro, atau om. Sebabnya hanya karena gue suka anime. Yeahhhh untuk kategori hobi satu ini memang sebagian orang masih mendiskreditkannya sebagai sesuatu yang immature. Mungkin juga orang gak akan percaya saat gue yang seorang istri, berusia cukup matang, ditambah guru pula, menyukai anime. Untungnya, gue nikah sama laki-laki yang juga suka anime.

Perbedaannya, gue suka anime ber-genre romance, slice of life, dan shoujo. Beda sama suami yang lebih suka action dan adventure. Ada kalanya gue juga dicibir suami sih, “Nonton anime kok gak ada berantem-berantemnya.” Ya biarin aja. Daripada nonton India malah baper ๐Ÿ˜‚

Jujur gue pernah nonton serial India berjudul Ranveer dan siapa gitu. Lupa. Sesungguhnya itu adalah serial India pertama yang berhasil memikat gue karena kecantikan dan ketampanan pemerannya. Selebihnya, ceritanya juga lumayan bagus. Lumayan buat nguras perhatian sampai gue harus ngiris dan nguleg hidangan buka puasa di depan TV ๐Ÿ˜‚

Ya, gue pernah segila itu. Emak-emak banget.

Sejak Naruto tamat, gue memang mencari-cari anime yang cocok dan bagus bagi gue. Awalnya gue mencari anime berlatar belakang pedesaan. Ketemu lah beberapa judul, seperti Non Non Biyori, Udon no Nikuni, dan beberapa judul lagi yang gue udah lupa saking banyaknya.

Lama-lama, gue mulai download anime genre romance. Ketemu judul Relife, Koi to Uso, Kimi no Wa Wa the movie, dan berrrrrderet judul lainnya. Entah udah berapa giga film dan serial yang gue download. Dan gue rajin nonton setiap hari sebagai selingan kesibukan sebagai istri dan guru.

Entah apa pandangan orang tentang guru yang suka anime. Gue gak peduli. Apa yang gue tonton biasanya gue serap baik-baik. Gue takjub karena dialog-dialog anime cenderung panjang dan filosofis. Sangat jauh berbeda dengan kartun biasa. Menurut ilmu pada mata kuliah Ilmu Komunikasi yang pernah gue pelajari, kata dan bahasa seseorang mencerminkan isi kepalanya. Kalau begitu, orang Jepang punya banyak perbendaharaan kata yang lebih banyak dari kita dong. Tak heran sebetulnya, sebab mereka adalah bangsa yang suka membaca.

Well, terlepas dari kontroversi anime adalah tontonan bocah, gue tetap suka. Namun, gue bukanlah wibu atau otaku. Memang, dulu gue sempet latah mau ikutan cosplay. Tau apa yang mau gue peragakan? Tsu-na-de.

Semua heboh ketika tau gue yang berjilbab malah pilih karakter itu. Tapi ya sudah, alhamdulillah gue gak jadi cosplay. Akhir kata, kita boleh judge apapun pada orang lain. Memang itu sifat dasar manusia. Suka menilai.

Yang penting satu hal, jangan hanya karena mereka melakukan hal yang menurut kita gak banget, lantas kita pun menilai kualitas diri mereka rendah. Sering kok gue mendengar cacian manusia yang menganggap diri mereka normal karena tak suka anime. Mereka sering menghina anime lover adalah manusia delusional yang tak layak hidup. Ow releeeeh. Kezemmm ๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚

Gue adalah anime lover. Dalam keseharian, gue menjadi seorang istri, pedagang, dan guru. Begitupun suami gue. Soal hobi anime ini, kami hanya mengeluarkan uang untuk kuota download. Selebihnya tak pernah membeli figur atau pernak-pernik anime apapun. Ada sih, keinginan beli costum untuk ber-cosplay. Tapi…

Hanya untuk suami ๐Ÿ˜†

Gue dan suami juga gak pernah komen dengan kata-kata kasar. Entah kenapa, gue sering melihat komentar seorang wibu atau otaku mudah sekali melontarkan komentar yang tak etis. Padahal usianya masih pelajar. Belajar dari mana ya? Apakah sudah jadi kebiasaan?

Biarlah. Yang penting gue jadi anime lover berbudaya dan sopan ๐Ÿ˜†

By Yoctae. Please call me Mrs, not ‘Mas’

Advertisements

From → Mama Speaks, My Words

5 Comments
  1. mbak yu, dah nonton anime ore monogatari, asik tuh lucu

  2. Oke mrs yg bukan om, mas dan bro.
    Padahal anime sendiri termasuk media penyampaian cerita, jadi ada juga anime yg bikin kening berkerut karena materi yg absurb ataupun tema yg dark

    • Iya, kebanyakan orang menganggap anime tontonan bayi karena saat mereka besar lebih suka nonton sinetron ๐Ÿ˜‚

  3. Nggak semua anime jelek. Sekarang kebanyakan fanservicenya dan fantasi yg makin aneh. Ketemu penggemar yang muda2, masih mencari identitas, dan kurang diperhatikan orang tua…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: