Skip to content

Kebaikan Istri TIDAK Berasal Dari Kesalehan Suami. Hitung Frekuensi Emosinya Dengan Cara Ini

February 21, 2018

Sebelum dan setelah menikah, aku percaya dengan quote entah siapa. Katanya, kebaikan istri berasal dari kesalehan suami. Ditambah, dulu ulama salaf selalu tau seberapa besar dosa mereka dari perilaku istrinya. Jika mereka melakukan maksiat, maka jadi buruklah perangai istrinya. Tadinya aku yakin itu. Sangat yakin.

Hingga aku mendapat pencerahan bahwa kita tak harus membalas racun dengan tusukan belati. Tak mesti menorehkan sembilu pada orang yang telah menyayat diri ini. Bagaimanapun juga, ketika kita baik, maka kebaikan itu untuk diri kita sendiri.

Aku suka dengan teori bilangan bulat pada emosi manusia. Ketika seseorang marah, maka nilai dirinya -4. Orang yang bersalah pada kita (karena telah berbuat jelek), nilai dirinya -2.

Secara logika, sebetulnya yang kalah adalah kita sendiri. Sebab nilai minus kita lebih banyak dibandingkan yang bersalah. Lalu, bagaimana agar kita menang? Sabar dan tetap berbuat baik.

Sabar akan memberi kita +4 dan berbuat baik +5. Maka, nilai kita menjadi -4+4+5. Berapa hayooo? 😁 yak, tepat! Nilainya berubah menjadi +5. Bagaimana dengan yang bersalah? Selama tak memperbaiki diri, nilainya akan tetap -2.

Tetapi, manusia adalah makhluk yang saling mempengaruhi satu sama lain. Ketika kita punya nilai +5 yang dalam matematika jauh lebih besar dibanding -2, maka pihak yang nilainya kecil akan ikut oleh kita dan berangsur-angsur menjadi positif.

Coba kita jumlahlan +5-2 hasilnya adalah +3. POSITIF!

Seperti itulah. Jika kita tetap marah dan yang bersalah tak mau berubah, maka nilainya -4 -2 = -6. Angka negatifnya semakin besar.

Bagi yang percaya kebaikan istri berasal dari kebaikan suami, mungkin mereka lupa. Bahwa Firaun si kafir punya istri super soleha dan telah dijanjikan Allah sebagai penghuni surga. Dan Nabi Nuh yang saleh justru punya istri kafir. Hal ini menjadi bukti bahwa kebaikan istri bukan berasal dari suami.

Kita lah yang memutuskan akan menjadi seperti apa. Akankah kita menang dengan mencoba berfrekuensi positif, atau menyerah kalah dalam emosi dan menambah nilai negatif semakin besar?

Hal ini berlaku untuk semua aspek kehidupan. Bukan hanya dalam rumah tangga. Jadi, cara menjadi istri yang baik sebetulnya tidak rumit. Cukup menghitung nilai frekuensi diri. Semoga bermanfaat.

*yoctae*

Advertisements

From → Education, Info, Spiritual

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: