Skip to content

Sahabat Hijrahku, Karena Kami Bertemu Hanya untuk Hal Ini

March 3, 2018

Benar, bahwa keistiqomahan itu membutuhkan teman hijrah. Setiap orang bisa memilih teman seperti apa yang dijadikan sebagai partnernya. Ada yang memilih sosok yang berpenampilan serupa dengan dirinya, ada pula yang tak peduli pada penampilan asalkan baik dan mau mengingatkan akan kelalaian dirinya.

Aku sendiri menemukan partner untuk berjalan menuju ke arah-Nya bersama anak-anak. Awalnya aku mencoba menghidupkan program hafalan juz amma dan ngaji di rumah belajar. Tujuanku, agar anak-anak itu bisa menjadi penerang bagi orangtua mereka kelak di akhirat. Aku berusaha memiliki amal yang mengalir lewat anak-anak itu, meski aku sendiri belum memiliki keturunan secara langsung.

Namun, harus ku akui semangatku itu berbenturan dengan pola asuh orangtua di rumah dan motivasi anak. Tak semua anak mau untuk mempelajari ilmu agama. Tak seluruhnya mau ku ajak membaca kalimat Tuhannya. Sebab orangtua mereka tak pernah menghukum ketika anaknya lalai solat. Sebab di rumahnya, mereka bisa bebas bermain tanpa perlu mengingat akan kehadiran Allah yang mengawasi kehidupannya. Orangtuanya tak peduli akan hal itu.

Hingga akhir semester satu, hanya sedikit yang mau konsisten belajar. Aku berpikir keras bagaimana caranya agar aku bisa menjalankan program dunia akhirat ini dengan baik. Memang, konsep bimbel yang mencampurkan pendidikan qurani belum banyak di kampungku. Ditambah dengan kurangnya kesadaran orangtua akan pentingnya membangun sebuah moral dan karakter agamis pada anak.

Bicara soal agamis, aku pun tak ingin anak-anak hanya termakan dogma agama. Hanya mampu bicara Tuhan dan surga tanpa menggunakan akal mereka. Aku tak ingin mereka menjadi muslim bodoh yang lemah. Yang mudah menghujat dan tak mampu mengimbangi dengan karya dan karsa mereka sebagai makhluk sempurna.

Betapa banyak kasus saat ini yang ku lihat. Muslim, pendidikan tinggi, tapi mudah terprovokasi. Muslim, kelihatan saleh, tetapi masih mudah menghujat. Bahkan yang telah mengenakan pakaian sangat syar’i pun masih melakukan hal demikian. Di mana letak kebaikan yang menggambarkan seorang muslim sejati? Padahal Allah telah menetapkan bahwa seorang muslim adalah orang yang membuat orang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Betapa banyak ku lihat mereka yang nampak saleh demikian sukanya berkomentar atas apa yang orang lain lakukan. Suka menasehati hanya lewat status sosmed tanpa mampu menegur secara langsung dan hanya berkomentar kepada sesamanya.

Iya, sepertinya cita-citaku ketinggian. Tapi aku memiliki Tuhan yang Maha Agung. Pada Arsy lah dia bersemayam. Sebuah titik kulminasi tertinggi yang kadang tak mampu dijangkau akal manusia. Harapan yang melambung ini ku getarkan pada-Nya. Berharap setidaknya ada pengajaran dariku yang akan melekat pada benak anak-anak hingga besar nanti.

Dan untuk mewujudkan itu, aku telah mengajak partner untuk mengajar. Sepupuku sendiri. Aku memintanya untuk membuat anak bisa menghafal surat-surat pendek dan mengaji. Pun demikian bagi diriku. Selalu ku usahakan untuk konsisten mengajak anak murojaah setiap kali pertemuan.

Bagi yang sakit hatinya, pasti akan menganggap tulisanku penuh dengan riya’. Tak masalah. Aku memang sengaja menuliskannya agar ada yang terinspirasi melakukan hal serupa. Agar banyak orang yang berpikir untuk menghujamkan masalah ukhrawi pada para mujahid kecil itu.

Dulu, aku selalu berpikir besar. Aku ingin mendirikan sekolah, membuka pesantren, dan bersedekah pada banyak orang. Tetapi, aku belum mampu secara finansial. Maka, ku mulai dengan cara sederhana. Dari rumahku, dengan sumber daya seadanya.

Aku bersyukur karena setiap hari selalu terdengar lantunan ayat suci alquran dari rumahku. Mereka lah yang membuatku mengingat untuk melafalkan alquran ketika aku lupa. Bahkan ketika aku tak ingin. Kehadiran anak-anak di rumahku adalah berkah. Bersama mereka, aku menjalin sebuah persahabatan tak terucap. Tanpa harus mengatakan aku cinta kamu karena Allah atau best friend till jannah.

Sebab hubungan kami sederhana. Bertemu untuk mengagungkan kalimat-Nya.

Advertisements

From → My story

Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: