Skip to content

Bumi Manusia, Ketegaran Seorang Perempuan Simpanan

May 25, 2018

Sebentar lagi novel Bumi Manusia akan difilmkan. Sama seperti Dilan, aku pun tak berniat menonton. Tak tertarik sama sekali. Sebab bagiku, imajinasi saat aku membaca novel jauh lebih liar dan bebas dibanding adegan-adegan pada film. Contohnya pemeran Minke yang akan diperankan Iqbal, blassss jauh dari bayanganku. Begitupun Fifty Shades of Grey, Sang Pemimpi karya Andrea Hirata dalam Tetralogi Laskar Pelangi, dan masih banyak lagi. Aku selalu memilih tak menonton film adaptasi sebuah novel. Daripada kecewa.

Terlepas dari tokohnya akan diperankan siapa, ada quote yang aku suka dalam novel karya Pramoedya Ananta Toer ini. Kalimat itu milik Nyai Ontosoroh, seorang gundik ‘peliharaan’ pejabat Belanda yang mandiri dan tegar. Di saat suaminya terpuruk dan jatuh dalam sekat rumah bordil, Nyai Ontosoroh dengan gagah mengurus semua bisnis si meneer. Meski dia hanyalah seorang pribumi. Sosok yang derajatnya dulu dianggap sangat rendah bagai sampah oleh penjajah dan orang sebangsanya sendiri.

Kalimatnya yang paling ku suka adalah : “Jangan sebut aku perempuan sejati jika hidup berkalang lelaki. Namun aku wanita yang tetap butuh lelaki.” (fyi : dalam ilmu bahasa, pemakaian kata perempuan jauh lebih bermartabat dibanding wanita. Oleh sebab itu ada sebutan wanita jalang, wanita murahan)

Prinsip hidup itu sudah lama ku pegang pula. Kita sebagai perempuan harus bisa mandiri. Tidak semua orang mendapatkan suami kaya. Ada pula yang harus merintis dan tertatih-tatih di awal kehidupan pernikahannya. Di sinilah keterampilan hidup dan pengetahuan perempuan dibutuhkan untuk menopang kehidupan rumah tangga. Justru aku salut pada kawan-kawan sesama perempuan yang bisa mandiri. Tak hanya bisa mengeluh dan merepet pada suaminya. Jatahnya kurang lah, gak cukup buat nyalon lah. Helloooo perempuan macam itu lah yang membuat para suami siap jatuh dalam perangkap maksiat. Entah selingkuh ataupun terjerat pelakor.

Namun, jangan sampai kita menganggap tak butuh lelaki. Bahkan para perempuan yang memilih lajang seumur hidup pun membutuhkan bapaknya agar dia bisa terlahir di dunia. Dulu, meskipun dia mengelak dan menolaknya.

Sebetulnya aku sempat jadi seorang feminist sejati. Aku menolak pernikahan dan merasa lebih baik dari laki-laki. Tetapi, seiring dengan hidayah yang ku peroleh untuk kembali mereguk nikmatnya iman, seketika itu pula aku paham bahwa derajat perempuan sudah dimuliakan oleh agama. Hanya budaya dan perlakuan individu sajalah yang merusaknya.

Aku pun bersyukur, sebab saat ini suamiku meski masih patriarkis, tetapi dia termasuk golongan memuliakan perempuan. Jadi, selesai sudah masalah ketakutanku dulu akan pernikahan. Kalaupun suamiku dzolim padaku, aku tinggal berdoa saja.

Dan Tuhanku akan mendengar rintihanku. Seperti yang sudah-sudah, doa baik-baik saja Allah kabulkan dengan mudah. Hasilnya nikmat. Untuk apa harus doa jelek?

*khusus Fifty Shades of Grey aku tak pernah menontonnya. Tapi baguslah pemainnya tak sesuai bayanganku. Coba kalau sama persis, bisa-bisa waktu itu langsung cuss ke bioskop pas premiere-nya 😄

Advertisements

From → Book

2 Comments
  1. makanya enakan nonton filmnya dulu baru baca novelnya, mba hihihi.
    betul, budaya dan perlakuan individu itu merusak….termasuk penafsiran dalam segala hal,
    yang menguntungkan dipertahankan yang merugikan disembunyikan…

    • Duh, baca novelnya udah 8 tahun yang lalu soalnya 😂 lagian sekarang di kampung gak ada bioskop, nonton bajakan kurang greget gak bisa sambil nyemil popcorn + soda hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: